
Masalah keamanan hambat pengiriman bantuan di Gaza

Pasukan Israel terlihat di dekat perbatasan Israel selatan dengan Gaza pada 20 Mei 2025. Militer Israel pada Selasa (20/5) mengatakan pihaknya akan memperluas serangan daratnya di Gaza dan menguasai lebih banyak wilayah. (Xinhua/Jamal Awad)
Rumah Sakit Gaza Eropa menjadi sasaran militer Israel, menyebabkan para pasien tidak mendapatkan layanan-layanan vital, termasuk bedah saraf, perawatan jantung, dan pengobatan kanker.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Masih belum ada bantuan yang dikirim ke warga sipil yang kelaparan di Gaza, yang terancam dilanda kelaparan setelah rute tunggal yang ditetapkan oleh militer Israel dianggap tidak aman, ungkap juru bicara (jubir) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (21/5).Stephane Dujarric, kepala jubir Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, menyampaikan bahwa sejauh pekan ini, sekitar 100 truk bermuatan bantuan telah diizinkan oleh Israel untuk memasuki perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem, tetapi distribusi bantuan ke warga Gaza masih nol.Dujarric memaparkan bahwa muatan tersebut diturunkan dari truk-truk di area transit pos pemeriksaan untuk diinspeksi. Beberapa pasokan bantuan dipindahkan ke truk lain yang dikirim ke perlintasan tersebut dari dalam Gaza untuk melakukan pengiriman ke gudang-gudang dan pos-pos pemeriksaan lainnya. Namun, tak satu pun dari pasokan bantuan tersebut meninggalkan area transit itu.Dujarric berkata rute tunggal yang disetujui oleh militer Israel bagi truk-truk yang menuju lokasi tujuan dianggap tidak aman. Jalur padat yang dipetakan tersebut rawan penjarahan, yang dianggap sebagai kemungkinan penyebab yang nyata karena tidak ada bantuan yang diizinkan masuk selama lebih dari 11 pekan dan masyarakat sangat membutuhkan makanan. Rute-rute itu juga harus melewati area operasi militer Israel.
Pengungsi terlihat di sebuah tempat penampungan sementara di area pelabuhan di Gaza City bagian barat pada 21 Mei 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Anak-anak pengungsi Palestina terlihat di sebuah tempat penampungan sementara di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara pada 20 Mei 2025. (Xinhua/Mahmoud Zaki)
Warga Palestina memeriksa kerusakan pascaserangan udara Israel di sebuah sekolah yang menampung para pengungsi di Gaza City pada 20 Mei 2025. (Xinhua/Mahmoud Zaki)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan UNHCR ungkap pengungsian paksa secara global tembus rekor 120 juta orang
Indonesia
•
15 Jun 2024

Feature – Perjuangan pengungsi Palestina bertahan hidup di tengah gencarnya serangan Israel di Gaza
Indonesia
•
16 Oct 2024

Berkemah di karavan jadi alternatif liburan warga Turkiye di tengah kesulitan ekonomi
Indonesia
•
06 Jul 2023

Korban perbudakan seks PD II di Filipina desak Jepang akui kejahatan perangnya
Indonesia
•
01 Feb 2023


Berita Terbaru

Meta dan YouTube dinyatakan bertanggung jawab terkait kecanduan media sosial di AS
Indonesia
•
27 Mar 2026

Menuju Olimpiade Los Angeles 2028: Atlet transgender dilarang ikut kompetisi perempuan
Indonesia
•
27 Mar 2026

Queensland di Australia akan larang anak di bawah 16 tahun kendarai perangkat ‘e-mobility’
Indonesia
•
25 Mar 2026

Badan Pengawas Obat AS tarik hampir 90.000 botol ibuprofen anak secara nasional
Indonesia
•
21 Mar 2026
