Ratu bulu tangkis Taiwan itu juga seorang doktor

Ratu bulu tangkis Taiwan itu juga seorang doktor
Tzu-ying punya berbagai gerakan “tipuan” di lapangan yang sering kali membuat lawan mainnya berlari ke arah yang salah, atau langsung terdiam sehingga tak sempat menyelamatkan shuttlecock. (Tai Tzu-ying/Facebook)

Jakarta (Indonesia Window) – Dia bukan atlet profesional kebanyakan.

Selain sering memenangkan kejuaraan tunggal putri terbanyak di turnamen super bulu tangkis (super 500 ke atas), dan memegang rekor poin tertinggi di tunggal putri Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), dia juga menyandang gelar doktor.

Dia adalah Tai Tzu-ying dari Taiwan yang saat ini menduduki peringkat satu dunia dalam jumlah poin.

Prestasi pebulutangkis kelahiran 20 Juni 1994 ini dimulai dari saat dia masih duduk di kelas 3 SD.

Ayahnya yang gemar bermain buku tangkis di waktu senggang membuat Tzu-ying dan adiknya dekat dengan olah raga ini.

Bulu tangkis bagi dirinya ternyata bukan hanya sekadar permainan di waktu luang, karena saat menjadi murid kelas 6 SD, Tzu-ying sudah meraih gelar juara grup kedua Turnamen Bulu Tangkis Nasional Taiwan.

Selanjutnya, Tzu-ying tak menunggu lama untuk mengukir prestasi lainnya.

Pada usia 15 tahun dia mulai mengikuti kejuaraan internasional, lalu ikut menguatkan tim Olimpiade Taiwan untuk pertama kalinya di umur 18 tahun dan memenangkan juara Turnamen Super pertama kali dalam karirnya.

Dengan prestasinya tersebut, Tzu-ying dijuluki “gadis jenius”.

Gaya permainannya yang paling mengesankan adalah berbagai gerakan “tipuan” di lapangan yang sering kali membuat lawan mainnya berlari ke arah yang salah, atau langsung terdiam sehingga tak sempat menyelamatkan shuttlecock.

Meski demikian, gaya Tzu-ying itu ternyata dianggap tidak formal sehingga banyak pelatih yang mencoba membenahi gaya atlet ini.

Namun Tzu-ying tetap mempertahankan cara permainannya ini, dan berpendapat bahwa pemain tidak harus selalu mengikuti pola yang telah ditetapkan. Makanya, dia juga dijuluki “ahlinya tipuan” dan “pesulap lapangan”.

Setinggi-tingginya karier internasional Tzu-ying, dia juga pernah mengalami frustrasi dan menyalahkan diri sendiri karena mengalami kekalahan.

Namun hal tersebut tak membuatnya hanyut dalam kesedihan, karena dia terus mengasah kemampuannya dengan menyaksikan kembali penampilannya saat bertarung di lapangan.

Bagi Tai Tzu-ying, musuh terbesar bukanlah lawan main yang ada di seberang jaring, melainkan dirinya sendiri.

Pada 2018, dia mewakili Taiwan di Asian Games yang diadakan di Indonesia dan memenangkan medali emas bulu tangkis pertama dalam sejarah Asian Games Taiwan di cabang tunggal putri.

Pada 2019, Tzu-ying menyamai rekor 20 juara Turnamen Super yang diraih oleh pemain putri China Wang Yihan, memenangkan kejuaraan tunggal putri di All England Badminton Open 2020 untuk ketiga kalinya.

Selain mencetak rekor terbanyak (21 juara) Turnamen Super untuk tunggal putri, di pekan berikutnya dalam pengumpulan poin, Tzu-ying mengungguli pemain China Chen Yufei yang lima kali berada di posisi teratas bulu tangkis dunia, dan sampai saat ini memimpin tunggal putri BWF dengan perolehan poin tertinggi.

Torehan tersebut memperpanjang rekor Tzai-ying dalam jumlah pekan terbanyak nomor satu untuk pemain tunggal putri, sehingga membuat para timpalannya semakin tertinggal di belakangnya.

Tai Tzu-ying sudah berkali-kali datang ke Indonesia untuk bertanding, dan sangat terkesan dengan sorakan meriah dari para penggemar di tanah air.

Dia juga tak segan membalas lambaian para penonton yang bersemangat menyaksikannya beraksi di lapangan.

Sumber: Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO)

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here