
Studi ungkap radiasi matahari mungkin berdampak terhadap bagian dalam Bumi

Foto yang diabadikan pada 8 Juni 2023 ini memperlihatkan gugusan terumbu karang di perairan Pulau Fenjiezhou, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua / Zhang Liyun)
Radiasi matahari bervariasi sesuai garis lintang, menciptakan gradien suhu di permukaan laut yang memengaruhi persebaran kehidupan laut.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Radiasi matahari mungkin berdampak terhadap bagian dalam Bumi, menurut studi kolaboratif yang dilakukan para peneliti dari China dan Rumania.Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini dilakukan oleh para peneliti dari Institut Geologi dan Geofisika (Institute of Geology and Geophysics/IGG) di Akademi Ilmu Pengetahuan China, Universitas Geosains China, dan Universitas Bucharest.Menurut para peneliti, radiasi matahari bervariasi sesuai garis lintang, menciptakan gradien suhu di permukaan laut yang memengaruhi persebaran kehidupan laut. Organisme yang kaya akan karbon ini diangkut ke bagian dalam Bumi melalui subduksi lempeng samudra. Proses ini secara signifikan memengaruhi keadaan redoks magma busur.Para peneliti menganalisis data dari ribuan sampel magma, termasuk sampel dari dalam Bumi dan laut, yang dikumpulkan oleh ahli geologi di seluruh dunia. Mereka memeriksa inklusi lelehan kecil dalam mineral olivin dan data batuan curah untuk menentukan keadaan redoks magma busur.Studi tersebut mengungkap bahwa magma di daerah lintang rendah kurang teroksidasi dibandingkan di daerah lintang tinggi. Bukti tambahan dari penelitian dasar laut menunjukkan endapan karbon yang lebih tereduksi di wilayah lintang rendah. Karbon ini berinteraksi dengan sulfur untuk membentuk sulfida, yang kemudian diangkut ke dalam bagian mantel Bumi, dan berkontribusi terhadap pola redoks yang diamati."Pola tak terduga ini menunjukkan bahwa lingkungan dan iklim permukaan Bumi, yang dipengaruhi oleh radiasi matahari, memiliki dampak besar terhadap proses di mantel," kata Wan Bo, salah satu penulis studi dan peneliti di IGG.Banyak bijih logam, seperti tembaga, timah, dan litium, sensitif terhadap kondisi redoks. Memahami persebaran spasial dan temporal keadaan redoks di zona subduksi global memiliki implikasi signifikan dalam memprediksi lokasi dan ketersediaan sumber daya penting ini."Pola yang teramati ini menawarkan arah baru untuk eksplorasi sumber daya dan memahami dampak lingkungan dari sistem subduksi di garis lintang yang berbeda-beda," papar Hu Fangyang, penulis korespondensi studi tersebut dan peneliti di IGG.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Teknologi AI baru bikin prakiraan badai debu lebih akurat dan 100 kali lebih cepat
Indonesia
•
06 Jun 2026

Ilmuwan prediksi luas lahan kering global bertambah sekitar 10 persen pada 2100
Indonesia
•
08 Sep 2023

Magnet resistif buatan China pecahkan rekor dunia baru
Indonesia
•
24 Sep 2024

China pulihkan reproduksi alami ikan sturgeon Yangtze di alam liar
Indonesia
•
29 Mar 2023


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
