Ilmuwan warga di Australia diminta bantu lacak virus kelinci

Warga Australia diminta untuk membantu badan ilmu pengetahuan nasional melacak penyakit kelinci guna membantu mengatasi spesies hama invasif tersebut. (Xinhua)
Rabbit Calicivirus atau Lagovirus, digunakan sebagai agen biokontrol untuk mengendalikan kelinci liar, salah satu spesies hama yang paling merusak di Australia.
Canberra, Australia (Xinhua) – Warga Australia diminta untuk membantu badan ilmu pengetahuan nasional melacak penyakit kelinci guna membantu mengatasi spesies hama invasif tersebut.Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation/CSIRO) pada Kamis (22/2) merilis penelitian baru yang menunjukkan bahwa pengujian untuk virus penyakit hemoragik kelinci (rabbit haemorrhagic disease virus/RHDV) telah ditingkatkan dari yang sebelumnya di bawah 30 sampel jaringan setiap tahun menjadi rata-rata 345 sampel yang diuji per tahun sejak peluncuran program pemantauan penyakit tersebut pada 2015.RHDV, yang juga dikenal sebagai Rabbit Calicivirus atau Lagovirus, digunakan sebagai agen biokontrol untuk mengendalikan kelinci liar, salah satu spesies hama yang paling merusak di Australia.Menurut CSIRO, kelinci liar menyebabkan hilangnya keanekaragaman tanaman, bersaing dengan satwa asli untuk mendapatkan makanan, serta merugikan industri pertanian sebesar 239 juta dolar Australia atau sekitar 156,5 juta dolar AS per tahun karena menyebabkan hasil panen turun.Ilmuwan CSIRO, Maria Jenckel, menggunakan temuan penelitian baru tersebut untuk mendorong warga Australia, terutama yang berada di wilayah regional dan pedesaan, agar berkontribusi dalam program pemantauan RHDV.Di bawah program itu, para ilmuwan warga (citizen scientist) dapat mengambil sampel jaringan dari kelinci mati yang ditemukan di daerah mereka dan mengirimkannya ke CSIRO untuk pengujian RHDV.Data tersebut kemudian digunakan untuk melacak prevalensi RHDV."Proyek sains warga seperti ini berkontribusi langsung bagi penelitian biokontrol kelinci, yang memiliki manfaat jangka panjang bagi keamanan hayati, konservasi spesies asli, dan kesehatan ekosistem di Australia," ujar Nias Peng, ahli virologi CSIRO, dalam sebuah rilis media pada Kamis."Oleh karena itu, sangat penting untuk mempertahankan program-program semacam ini dalam jangka panjang guna memantau kemunculan serangan RHDV baru dan/atau varian rekombinan yang dapat memengaruhi populasi kelinci liar maupun domestik."Program tersebut, yang didanai oleh Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, memungkinkan para peneliti untuk melacak RHDV dalam skala geografis yang lebih luas karena mereka tidak perlu lagi secara langsung mengumpulkan sampel jaringan, tutur Peng.*1 dolar Australia = 10.300 rupiah**1 dolar AS = 15.630 rupiahLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Studi ungkap gumpalan besar di mantel Bumi mungkin merupakan sisa benturan yang membentuk Bulan
Indonesia
•
03 Nov 2023

Studi: Perubahan iklim picu meningkatnya kekeringan salju
Indonesia
•
06 May 2025

Tim ilmuwan berhasil rakit genom gandum telomer-ke-telomer pertama di dunia
Indonesia
•
17 Apr 2025

Penelitian: Sildenafil kandidat obat untuk penyakit Alzheimer
Indonesia
•
07 Dec 2021
Berita Terbaru

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026

Satelit BeiDou sediakan layanan komunikasi darurat tanpa cakupan seluler
Indonesia
•
07 Feb 2026

24.000 kematian di AS terkait dengan polusi asap karhutla
Indonesia
•
07 Feb 2026

Jumlah warga Australia pengidap demensia ‘onset’ dini akan meningkat 40 persen pada 2054
Indonesia
•
06 Feb 2026
