Punya 1.300 spesies ikan air tawar, BRIN siapkan jalan ikan hias Indonesia ke pasar global

Seorang anak melihat ikan hias air tawar di dalam akuarium di pasar ikan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 8 Juni 2025. (Indonesia Window)

Jawa Barat (Indonesia Window) – Indonesia memiliki sekitar 1.300 spesies ikan air tawar yang berpotensi menjadi sumber daya genetik untuk industri ikan hias. Namun, sebagian ikan hias masih diambil dari alam untuk memenuhi permintaan pasar.

Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eni Kusrini, menyebut arwana, rainbow fish, rasbora, wild betta, dan botia sebagai beberapa contoh ikan yang dapat dikembangkan.

“Biodiversitas merupakan modal genetik sekaligus bank gen alami yang menyediakan berbagai alel unggul untuk pengembangan varietas,” kata Eni dalam Webinar Nasional Aquatalk #11, Selasa (22/9), dikutip dari situs jejaring BRIN, Jumat.

Webinar itu membahas masa depan industri ikan hias Indonesia, mulai dari biodiversitas dan inovasi hingga pasar global dan penguatan kelembagaan.

Menurut Eni, sebagian dari kebutuhan pasar domestik dan internasional masih dipenuhi melalui eksploitasi ikan dari alam. Pengembangan berbasis riset dapat membantu menghasilkan strain yang stabil, produktif, adaptif, dan berkualitas melalui domestikasi, seleksi, serta pemuliaan.

Kemajuan genetika molekuler dan genomik membuka peluang untuk memilih karakter ikan dengan dukungan data.

Peneliti dapat menggunakan marka DNA, single nucleotide polymorphism (SNP), genome-wide association study (GWAS), transcriptomics, dan genomic selection untuk mempelajari keragaman genetik dan mengidentifikasi sifat unggul.

Namun, membentuk varietas unggul bukan proses instan. Tahapannya meliputi eksplorasi sumber daya genetik, domestikasi spesies potensial, karakterisasi genetik, seleksi, pemuliaan, hingga hilirisasi menjadi benih, strain, dan produk ikan hias bernilai ekonomi.

“Program pemuliaan tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan proses panjang dan berkelanjutan untuk menjaga keragaman genetik sekaligus menghasilkan varietas unggul,” ujar Eni.

Pengembangan itu perlu diimbangi dengan konservasi in situ dan ex situ, dokumentasi, serta pemanfaatan data genetik untuk penelitian dan program pemuliaan. Dengan begitu, pemanfaatan biodiversitas dapat berjalan sambil menjaga sumber daya genetik.

Ketua Asosiasi Eksportir Ikan Hias Indonesia, Teguh Minarno Wijaya, mengatakan kinerja ekspor ikan hias Indonesia menunjukkan peluang besar.

Agar produk lebih siap bersaing di pasar global, dia menyoroti kebutuhan akan standardisasi mutu, sertifikasi kesehatan ikan, pasokan yang berkelanjutan, layanan ekspor yang lebih mudah, serta promosi dan branding produk Indonesia.

Sinergi antara peneliti, sentra budidaya, asosiasi, eksportir, dan infrastruktur pendukung—termasuk raiser ikan hias—diharapkan memperkuat rantai nilai dari sumber daya genetik hingga produk bernilai tambah untuk pasar domestik dan internasional.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait