Kekhawatiran krisis energi meningkat di Asia Tenggara, survei ungkap penyebabnya

Arus lalu lintas pada jam sibuk sore hari terlihat di Jakarta pada 7 Januari 2025. (Xinhua/Zulkarnain)

Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Kenaikan harga energi dan biaya hidup masih menjadi kekhawatiran terbesar di Asia Tenggara dalam proses transisi menuju energi terbarukan dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, menurut survei regional yang dirilis pada Kamis (1/10).

Sekitar 44,6 persen responden menyebut lonjakan harga energi dan biaya hidup sebagai kekhawatiran terbesar mereka, menurut Southeast Asia Climate Outlook Survey Report 2026 yang diluncurkan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.

Kekhawatiran tersebut disusul oleh kekhawatiran mengenai krisis energi, yang disebut oleh 26,1 persen responden, menurut laporan tersebut.

Dibandingkan dengan survei 2024, proporsi responden yang mengkhawatirkan kenaikan harga energi dan biaya hidup turun dari 52,4 persen menjadi 44,6 persen pada 2026.

Pada saat yang sama, kekhawatiran mengenai krisis energi meningkat dari 20,3 persen pada 2024 menjadi 26,1 persen pada 2026. Laporan tersebut mengatakan bahwa kekhawatiran ini mungkin mencerminkan gangguan yang disebabkan oleh guncangan energi dan peristiwa geopolitik dalam beberapa tahun terakhir.

Survei 2026 tersebut menghimpun pandangan dari 3.706 responden di 11 negara anggota ASEAN. Survei itu merupakan edisi pertama yang mencakup responden dari Timor-Leste, anggota terbaru ASEAN.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait