Indonesia punya 57 industri rumput laut berkapasitas 197.650 ton per tahun, 80 persen karagenan masih setengah jadi

Petani memanen rumput laut di perairan Pulau Ontoloe, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada 6 Juni 2026. (Xinhua/Rangga Firmansyah)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Indonesia memiliki 57 industri pengolahan rumput laut, tetapi sebagian besar produk karagenannya masih berupa bahan setengah jadi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) BRIN memetakan rantai nilai industri rumput laut dari bahan baku hingga produk turunan dan aplikasinya.

Pemetaan itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) ‘Transformasi Industri Rumput Laut: Pemetaan Value Chain, Value Added, Hilirisasi, dan Investasi Strategis’, di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Senin (28/9), dikutip dari situs jejaring BRIN pada Jumat.

Forum tersebut mempertemukan periset, asosiasi industri, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan.

Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Safari Azis, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki 57 industri pengolahan rumput laut dengan kapasitas terpasang total 197.650 ton bahan baku kering per tahun. Meski demikian, sekitar 80 persen karagenan yang dihasilkan masih berupa produk setengah jadi (semi-refined/ATC).

Angka tersebut memberi gambaran tentang ruang pengembangan di tahap hilir. Produk yang dapat dikembangkan dari rumput laut mencakup karagenan, agar, alginat, pangan fungsional, farmasi, kosmetik, bioplastik, dan biostimulan.

Group leader Valuasi Hasil Perikanan dan Rumput Laut BRIN, Ari Kabul Paminto, mengatakan pemetaan rantai nilai diperlukan untuk mengetahui posisi setiap tahapan industri sekaligus mengidentifikasi peluang peningkatan nilai ekonomi.

“Kita harus bertransformasi dari resource-based economy yang hanya mengeksploitasi bahan mentah menuju capability-based economy yang mengandalkan penguasaan teknologi dan inovasi bernilai tambah tinggi. Sumber daya alam harus kita posisikan sebagai input awal, bukan produk akhir,” urai Ari.

Dalam kajian tersebut, BRIN menelusuri alur industri mulai dari bahan baku, proses pengolahan, produk antara, hingga produk turunan dan penggunaannya. Pemetaan ini membantu menunjukkan tahapan yang sudah berkembang serta bagian yang masih berpeluang menghasilkan nilai tambah.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan kajian itu juga ingin melihat nilai ekonomi yang terbentuk pada setiap tahap pengolahan.

“Kami ingin melihat sebenarnya turunan produk-produk kelautan, khususnya rumput laut, sudah sampai sejauh mana. Apakah masih dalam bentuk biomassa kering atau sudah dalam bentuk produk turunan dan berapa besar nilai tambahnya,” jelas Nugroho.

Selain memetakan aliran produk dan nilai tambah, kajian ini melihat peluang pemanfaatan bahan baku secara lebih menyeluruh melalui pendekatan biorefinery cascading. Dengan pendekatan tersebut, rumput laut dapat diolah secara bertahap untuk menghasilkan beberapa jenis produk.

Wakil Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI), Pontas Tambunan, mengatakan pendekatan itu dapat membantu mengurangi sisa bahan yang terbuang dan memaksimalkan nilai ekonomi rumput laut.

“Proses ekstraksi rumput laut tidak boleh lagi menyisakan limbah buang (waste) yang tidak bernilai. Melalui pendekatan cascading, rumput laut diekstraksi secara bertahap sehingga nilai ekonominya dapat dimanfaatkan secara lebih utuh,” kata Pontas.

Dalam penerapannya, pengolahan bertahap dapat menghasilkan biostimulan, nutrisi, agar, dan karagenan. Material sisa juga dapat diarahkan untuk menghasilkan energi, seperti biogas dan Refuse Derived Fuel (RDF).

Untuk melengkapi pemetaan dari sisi ekonomi, PRSIMB juga melakukan valuasi teknologi dan kekayaan intelektual. Analisisnya menggunakan pendekatan Cost Method, Market Approach, serta Income Approach atau Discounted Cash Flow (DCF). Tujuannya, memperkirakan potensi ekonomi teknologi dan inovasi serta peluang pengembangannya menuju komersialisasi.

PRSIMB turut mengembangkan BRINavigasi—Nusantara Analytics for Valuation of Innovation, Growth and Sovereign Industry—sebagai instrumen untuk mendukung analisis dan valuasi inovasi serta industri strategis.

Hasil pemetaan dan valuasi diharapkan menunjukkan titik-titik strategis dalam industri rumput laut yang berpeluang dikembangkan melalui peningkatan nilai tambah, pengembangan produk, dan investasi.

Kajian tersebut juga dapat menjadi salah satu bahan penyusunan rekomendasi pengembangan industri berbasis bukti.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait