
Pertamina gandeng perusahaan China bangun pabrik panel surya di Jawa Barat

Pertamina dan LONGi meluncurkan proyek pembangunan pabrik panel surya di Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pada 23 Juni 2025. (Sumber: Pertamina NRE).
Proyek strategis pembangunan pabrik panel surya (photovoltaic/PV) berkapasitas produksi 1,4 gigawatt per tahun di Bekasi, Provinsi Jawa Barat, akan mendukung proses transisi energi di Indonesia.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Pertamina melalui anak usahanya, Pertamina New and Renewable Energy (NRE), dan raksasa produsen panel surya asal China, LONGi Green Technology, belum lama ini meluncurkan proyek strategis pembangunan pabrik panel surya (photovoltaic/PV) berkapasitas produksi 1,4 gigawatt per tahun di Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Kemitraan ini akan menggandakan kapasitas produksi nasional sehingga dapat mendukung proses transisi energi di Indonesia.Fasilitas ini disiapkan untuk memenuhi permintaan di pasar domestik yang terus meningkat sekaligus pasar Asia Tenggara. Pabrik ini akan menggunakan teknologi terbaru dari LONGi dalam manufaktur panel surya Hybrid Passivated Back Contract (HPBC) 2.0 tipe N yang bisa menghasilkan modul surya dengan efisiensi tinggi."Dengan membangun kapasitas manufaktur lokal, kami ingin memperkuat rantai pasokan solar PV dalam negeri, menurunkan biaya produksi, dan menciptakan lapangan kerja hijau dengan keahlian tinggi," kata CEO Pertamina NRE John Anis dalam upacara di Bekasi pada Senin (23/6).Berdasarkan data Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (RI), kapasitas produksi panel surya Indonesia saat ini baru sekitar 1,6 gigawatt peak (GWp) per tahun, sehingga proyek baru ini akan meningkatkan kemampuan manufaktur dalam negeri menjadi 3 GWp. Hal ini diharapkan dapat mendukung target pemerintah untuk menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia hingga 300-400 GWp per 2060.Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Eniya Listiani, yang juga hadir dalam acara tersebut, mengatakan proyek ini akan sangat membantu proses transisi energi di Indonesia. Pemerintah menargetkan 34,3 persen pasokan listrik di Indonesia pada 2034 berasal dari energi baru terbarukan (EBT).Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Minyak naik menuju 89 dolar di Asia didorong ketegangan Rusia-Ukraina
Indonesia
•
26 Jan 2022

RCEP akan bantu tingkatkan partisipasi Vietnam dalam rantai pasokan
Indonesia
•
12 Nov 2022

Telaah – Penurunan peringkat kredit AS tambah tekanan pada ekonomi
Indonesia
•
20 May 2025

Survei ungkap peningkatan dalam hal transfer paten di China
Indonesia
•
29 Dec 2022


Berita Terbaru

IPO SpaceX raup 1.348 triliun rupiah, Elon Musk makin dekat jadi triliuner pertama dunia
Indonesia
•
13 Jun 2026

Aset lintas batas Hong Kong tembus Rp53 kuadriliun, lampaui Swiss
Indonesia
•
13 Jun 2026

UKM Singapura paling tidak optimistis ekspansi ke luar negeri
Indonesia
•
12 Jun 2026

ZTE borong 3 penghargaan Selular Awards 2026, perkuat inovasi teknologi jaringan di Indonesia
Indonesia
•
11 Jun 2026
