
Perubahan iklim berpotensi pangkas populasi rusa Arktika hingga 80 persen pada 2100

Seorang anak perempuan dari suku Nenet menyingkirkan kulit mati dari tanduk seekor rusa kutub di kamp tempat tinggalnya, sekitar 200 kilometer dari Salekhard, Rusia, pada 4 November 2017. (Xinhua/Bai Xueqi)
Populasi rusa kutub mengalami penurunan besar selama periode pemanasan iklim yang cepat, namun kerusakan yang diperkirakan akan terjadi dalam beberapa dekade mendatang akibat perubahan iklim di masa depan kemungkinan akan jauh lebih parah dibandingkan sebelumnya.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Jumlah rusa kutub di Arktika diperkirakan dapat anjlok hingga 80 persen pada 2100 akibat pemanasan iklim, demikian menurut peringatan pada Kamis (14/8) dari penelitian yang dipimpin oleh tim peneliti Australia.Tim peneliti menggunakan fosil, DNA purba, dan model iklim untuk mengkaji cara herbivora dari Zaman Es tersebut, yang sangat penting bagi penghidupan masyarakat asli Arktika, beradaptasi selama 21.000 tahun terakhir, ungkap pernyataan yang dirilis oleh Universitas Adelaide di Australia.Perubahan iklim telah memangkas jumlah rusa kutub Arktika di seluruh dunia sebesar hampir dua pertiga dalam 30 tahun terakhir, urai studi yang dirinci dalam jurnal Science Advances, yang dipublikasikan oleh American Association for the Advancement of Science."Penelitian ini menunjukkan bahwa populasi rusa kutub mengalami penurunan besar selama periode pemanasan iklim yang cepat, namun kerusakan yang diperkirakan akan terjadi dalam beberapa dekade mendatang akibat perubahan iklim di masa depan kemungkinan akan jauh lebih parah dibandingkan sebelumnya," ujar Elisabetta Canteri, peneliti utama studi ini dari Universitas Adelaide dan Universitas Kopenhagen di Denmark.Jumlah karibu di Amerika Utara berpotensi merosot hingga 80 persen pada 2100 tanpa pengurangan emisi besar-besaran dan peningkatan upaya konservasi, ungkap Damien Fordham, associate professor di Universitas Adelaide yang juga salah satu pemimpin penelitian tersebut.Penurunan itu dapat meningkatkan kerentanan rusa kutub dan memicu efek domino, mulai dari berkurangnya keanekaragaman tanaman tundra hingga pelepasan karbon tersimpan dari tanah Arktika, sehingga mengintensifkan pemanasan global dan semakin mengancam spesies maupun ekosistem yang bergantung padanya, demikian menurut peringatan para peneliti."Selama ribuan tahun, kesejahteraan spesies kita sendiri telah diuntungkan secara langsung dari populasi rusa kutub dan karibu yang sehat. Saat ini, lebih dari sebelumnya, kita perlu memastikan kesejahteraan mereka sebagai balasannya," tutur Profesor Eric Post dari University of California Davis di Amerika Serikat, yang turut berkontribusi dalam penelitian ini.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Fokus Berita – Robot humanoid China kian maju dengan interaksi emosional yang disempurnakan
Indonesia
•
27 Aug 2024

Wahana antariksa Dragon Crew-12 SpaceX sukses ‘docking’ dengan stasiun luar angkasa
Indonesia
•
15 Feb 2026

Tim peneliti internasional rilis temuan bersejarah dalam pemetaan otak skala meso
Indonesia
•
12 Jul 2025

COVID-19 – Produksi vaksin Sputnik V Rusia meningkat hingga 2 juta dosis
Indonesia
•
04 Dec 2020


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
