
Studi ungkap gelombang panas ekstrem sebabkan penurunan populasi burung tropis

Seekor flamingo besar terlihat di Danau Ulan Suhai di Urad Qianqi, Daerah Otonom Mongolia Dalam, China utara, pada 25 Mei 2024. (Xinhua)
Populasi burung tropis menurun 25-38 persen sejak 1950 akibat gelombang panas ekstrem yang diakibatkan oleh perubahan iklim.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Gelombang panas ekstrem akibat perubahan iklim telah memusnahkan 25-38 persen populasi burung tropis sejak 1950, menurut sebuah studi yang melibatkan sejumlah ilmuwan Australia.Studi tersebut menemukan bahwa meskipun perubahan rata-rata suhu dan curah hujan memiliki pengaruh, ancaman iklim terbesar bagi burung, terutama di kawasan tropis, berasal dari paparan terhadap suhu panas ekstrem, menurut analisis yang dirilis pada Selasa (12/8) di situs jejaring Universitas Queensland.Ilmuwan Australia dan Eropa menganalisis lebih dari 3.000 populasi burung pada 1950-2020, menggunakan data cuaca untuk memisahkan dampak iklim dari tekanan manusia seperti hilangnya habitat, dalam kumpulan data yang berisi 90.000 pengamatan dari semua benua, menurut studi tersebut.Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Ecology & Evolution tersebut mengonfirmasi penelitian ilmuwan iklim lainnya yang menunjukkan bahwa peristiwa suhu panas ekstrem telah meningkat secara dramatis selama 70 tahun terakhir, terutama di dekat khatulistiwa.Para ilmuwan menemukan bahwa burung-burung di kawasan tropis kini menghadapi hari-hari dengan suhu panas yang berbahaya sekitar 10 kali lebih sering dibanding sebelumnya.Burung-burung yang mampu bertahan hidup kemungkinan mengalami kerusakan jangka panjang, termasuk kerusakan organ dan berkurangnya tingkat keberhasilan dalam pembiakan, karena gelombang panas ekstrem menurunkan kondisi tubuh, membatasi pencarian makanan, membuat telur dan anak burung mengalami stres, serta dapat menyebabkan dehidrasi atau tindakan meninggalkan sarang, tunjuk studi tersebut.Para ilmuwan memperingatkan bahwa bahkan hutan tropis yang lokasinya terpencil, terlindungi, dan tak tersentuh manusia pun mengalami penurunan populasi burung akibat gelombang panas, dengan dampak iklim yang lebih besar daripada tekanan langsung dari manusia.Mengingat hampir separuh dari semua spesies burung ditemukan di kawasan tropis, temuan tersebut mengindikasikan ancaman besar terhadap keanekaragaman hayati global serta mendorong agar pengurangan emisi dan perlindungan habitat segera dilakukan demi melestarikan berbagai spesies.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Para awak Shenzhou-19 rampungkan aktivitas di luar wahana antariksa perdana
Indonesia
•
19 Dec 2024

Tesla tarik kembali 2 juta lebih unit kendaraannya akibat masalah keamanan autopilot
Indonesia
•
14 Dec 2023

Taikonaut Shenzhou-18 lakukan uji alarm kebakaran dan pengambilan sampel darah di luar angkasa
Indonesia
•
09 Aug 2024

Artefak kuno ditemukan di China barat daya
Indonesia
•
02 Dec 2022


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
