Pil Lumakras kurangi risiko perkembangan kanker paru-paru hingga 34 persen

Ilustrasi. Pil Lumakras dirancang untuk menargetkan bentuk mutasi dari gen yang dikenal sebagai KRAS yang terjadi pada sekitar 13 persen kanker paru-paru non-sel kecil, bentuk penyakit yang paling umum, dan lebih jarang pada beberapa tumor padat lainnya.(Robina Weermeijer on Unsplash)
Pil Lumakras diklaim dapat mengurangi risiko perkembangan penyakit pada pasien dengan kanker paru-paru lanjut sebesar 34 persen dibandingkan dengan kemoterapi.
Jakarta (Indonesia Window) – Pil Lumakras buatan perusahaan biofarmasi Amerika Amgen Inc. diklaim dapat mengurangi risiko perkembangan penyakit pada pasien dengan kanker paru-paru lanjut sebesar 34 persen dibandingkan dengan kemoterapi dalam uji klinis, kata perusahaan itu pada Ahad (11/9).Studi konfirmasi yang diperlukan oleh regulator AS sebagai syarat mempercepat persetujuan obat tersebut menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kelangsungan hidup secara keseluruhan antara dua perawatan. Tetapi Amgen mengatakan uji coba itu tidak dirancang untuk mendeteksi perbedaan kelangsungan hidup.Perusahaan yang berbasis di California itu juga sedang menguji apakah pil Lumakras dapat efektif melawan kanker paru-paru pada awal penyakit, dan mengatakan bulan lalu sebuah penelitian kecil yang mengombinasikan Lumakras dengan imunoterapi menghasilkan tingkat toksisitas hati yang tinggi dan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan.Hasil lebih rinci dari studi terhadap 345 pasien, termasuk kelangsungan hidup bebas perkembangan rata-rata – lamanya waktu sampai kanker mulai memburuk – akan dipresentasikan pada Senin di pertemuan tahunan Masyarakat Eropa untuk Onkologi Medis (ESMO) di Paris, Prancis.Analis Wall Street, seperti Michael Yee di Jefferies, mengatakan investor mengharapkan keuntungan sederhana sekitar dua bulan untuk obat Amgen dibandingkan kemoterapi.Amgen mengatakan, 33 persen dari pasien uji coba Lumakras mengalami efek samping serius seperti diare dan peningkatan enzim hati, dibandingkan dengan 40 persen pasien kemoterapi.Obat ini dirancang untuk menargetkan bentuk mutasi dari gen yang dikenal sebagai KRAS yang terjadi pada sekitar 13 persen kanker paru-paru non-sel kecil, bentuk penyakit yang paling umum, dan lebih jarang pada beberapa tumor padat lainnya."Kami menawarkan pilihan pil … versus kemoterapi yang berarti pergi ke rumah sakit," kata kepala onkologi Amgen Jean-Charles Soria kepada Reuters.Lumakras disetujui oleh U.S. Food and Drug Administration (FDA) atau Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS tahun lalu di bawah jalur percepatan untuk pasien kanker paru-paru lanjut dengan mutasi KRAS yang penyakitnya memburuk setelah pengobatan dengan kemoterapi atau obat-obatan lain.FDA juga meminta Amgen untuk mempelajari dosis yang lebih rendah dari Lumakras, yang dikenal secara kimiawi sebagai sotorasib. Perusahaan mengatakan hasil tersebut diharapkan keluar pada kuartal keempat tahun ini.FDA dijadwalkan untuk membuat keputusan persetujuan pada obat penargetan KRAS saingan potensial, adagrasib buatan Mirati Therapeutics Inc., pada pertengahan Desember.Mirati pada bulan Mei mengatakan adagrasib menyusutkan tumor pada 44 persen pasien kanker paru-paru stadium lanjut dalam uji klinis, tetapi juga menyebabkan efek samping yang serius pada 43 persen dari mereka.Pada pertemuan ESMO pekan ini, Amgen juga memaparkan data awal dari uji coba Lumakras dalam kombinasi dengan obat kanker lain untuk pasien kanker kolorektal (kanker yang tumbuh di usus besar [kolon] atau di bagian paling bawah usus besar yang terhubung ke anus [rectum]).Sumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Tim arkeologi China ‘hidupkan kembali’ manusia Zaman Neolitikum dengan teknologi rekonstruksi wajah
Indonesia
•
25 Sep 2024

Tim ilmuwan China capai emisi gas rumah kaca net-negatif melalui katalisis elektrik
Indonesia
•
14 Jul 2025

BYD China akan bangun pabrik NEV baru di Hongaria
Indonesia
•
23 Dec 2023

COVID-19 – Kementerian kesehatan Rusia daftarkan dua obat Remdesivir
Indonesia
•
16 Oct 2020
Berita Terbaru

Peneliti ciptakan jaringan saraf untuk simulasikan pembentukan konsep pada manusia
Indonesia
•
03 Mar 2026

Mamuju di Sulawesi Barat terpapar radiasi alam 9 kali lebih tinggi dari rata-rata dunia, masuk sorotan PBB
Indonesia
•
01 Mar 2026

Model AI SpecCLIP mampu proses data bintang dari berbagai teleskop
Indonesia
•
27 Feb 2026

Kasus pertama flu burung H5N1 ditemukan pada anjing laut gajah di California
Indonesia
•
27 Feb 2026
