Pesta pernikahan di Iran diserang, 4 tewas dan 68 luka; AS buka penyelidikan

Seorang anak laki-laki memegang poster dalam acara memorial yang digelar di Teheran, Iran, untuk mengenang para murid sekolah dasar yang tewas akibat serangan rudal di Iran selatan, pada 7 April 2026. (Xinhua/Shadati)

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) JD Vance pada Kamis (3/9) menyampaikan bahwa AS sedang menyelidiki sebuah serangan yang menurut Teheran menghantam sebuah pesta pernikahan di Iran selatan, sehingga kembali menyoroti jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil akibat operasi militer AS di negara Timur Tengah tersebut.

"Kami menyelidikinya karena tentu saja kami peduli. Kami ingin mengetahuinya," ujar Vance dalam konferensi pers di Gedung Putih.

"Jika kami memang membuat kesalahan, sekali lagi, ini adalah perbedaan yang besar antara kami dan Iran, ketika militer kami membuat kesalahan, mereka belajar dari hal tersebut untuk berupaya menjadi lebih baik," imbuhnya.

Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat (CENTCOM) AS, pada Rabu (2/9) menuturkan bahwa militer AS sedang mendalami laporan terkait serangan terhadap pesta pernikahan tersebut.

Media Iran pada Rabu melaporkan bahwa serangan AS pada Selasa (1/9) malam menghantam pesta pernikahan di wilayah Sirik di Provinsi Hormozgan, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 68 lainnya.

Menurut laporan tersebut, sebuah rudal AS menghantam sebuah rumah tempat puluhan orang berkumpul untuk menghadiri pernikahan putri seorang nelayan.

Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, pada Rabu menggambarkan serangan itu sebagai "upaya putus asa AS untuk menyembunyikan kekalahannya."

Pada 28 Februari, hari pertama perang AS-Israel terhadap Iran, sebuah serangan menghantam sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan, dan menewaskan 168 orang, yang mayoritas di antaranya adalah anak-anak, menurut otoritas Iran. Bukti-bukti dari investigasi lanjutan mengarah pada rudal Tomahawk milik AS sebagai senjata yang digunakan dalam serangan tersebut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait