
3 anak tewas dalam 24 jam, krisis air kembali ancam 1 juta warga Gaza

Seorang warga Palestina memadamkan api pada sebuah kendaraan yang hancur akibat serangan 'drone' Israel di kawasan permukiman Tel al-Hawa, Gaza City, pada 31 Agustus 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (2/9) menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap keselamatan dan kesejahteraan warga sipil di wilayah Palestina yang diduduki, setelah tiga anak dilaporkan tewas dalam kurun 24 jam.
Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) mengatakan pada Rabu melalui laman Facebook bahwa dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki berusia 3 hingga 13 tahun dilaporkan tewas dalam 24 jam terakhir di Gaza, dengan sedikitnya lima anak lainnya mengalami luka-luka.
UNICEF mengatakan bahwa untuk melindungi anak-anak, penggunaan senjata peledak dan tembakan yang tidak pandang bulu harus dihindari.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan tiga penjaga yang bekerja untuk mitra kemanusiaan mengalami luka ringan pada Selasa (1/9) dalam bentrokan bersenjata di Gaza City.
Di Deir al-Balah, dinding luar dua wisma tamu PBB terkena proyektil hingga menyebabkan kerusakan ringan. Sebuah drone dengan empat baling-baling (quadcopter) milik Israel terlihat di dekat lokasi tersebut, kata OCHA.
OCHA menyampaikan bahwa pada Rabu, untuk hari kedua berturut-turut, sekitar 1 juta penduduk Gaza yang bergantung pada jaringan pasokan air Israel terdampak oleh berkurangnya pasokan. Air yang didistribusikan dari sumber-sumber lain menggunakan truk hanya mampu mengatasi sebagian dari kekurangan tersebut.
Di Tepi Barat, OCHA mengatakan bahwa mitra-mitra kemanusiaannya sangat prihatin dengan laporan bahwa seluruh komunitas Khirbet at Tabban dihancurkan oleh pasukan Israel.
Khirbet merupakan salah satu dari 13 komunitas penggembala di area Masafer Yatta, Hebron. Ketiga belas komunitas tersebut berpenduduk lebih dari 1.000 orang dan seluruhnya berada di dalam 18 persen wilayah Tepi Barat yang dinyatakan oleh otoritas Israel sebagai "zona tembak" dan dialokasikan untuk latihan militer, sebut OCHA.
Komunitas-komunitas ini telah lama menghadapi perintah penghancuran yang dikeluarkan terhadap semua bangunan karena tidak memiliki izin, meski otoritas Israel tidak menerbitkan izin yang diperlukan untuk warga Palestina.
Selama dua tahun terakhir, belasan pos pemukim telah didirikan di wilayah yang sama, dengan kekerasan oleh para pemukim makin menambah tekanan bagi warga Palestina agar meninggalkan wilayah tersebut.
OCHA mengatakan bahwa mitra-mitranya sedang mengerahkan upaya tanggap darurat untuk mendukung para pengungsi baru, sekaligus mendukung penghidupan komunitas-komunitas rentan di seluruh Tepi Barat, yang berada di bawah tekanan untuk meninggalkan tanah mereka.
Dalam konteks ini, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada Rabu mengatakan bahwa para penggembala di Tepi Barat telah menerima 3,3 juta dosis vaksin dari badan tersebut dan Kementerian Pertanian Palestina untuk melindungi ternak dan sumber pendapatan mereka selama dua tahun terakhir.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Menkeu Israel sebut Israel berencana bentuk “administrasi migrasi" bagi pengungsi Gaza
Indonesia
•
10 Mar 2025

Biden tandatangani RUU bantu Taiwan sebagai pengamat Majelis Kesehatan Dunia
Indonesia
•
15 May 2022

Putin sebut Rusia dan ASEAN berperan sebagai kekuatan penyeimbang di tengah turbulensi global
Indonesia
•
20 Jun 2026

Bank Dunia alokasikan 354 juta dolar AS untuk kebutuhan mendesak di Sudan
Indonesia
•
05 Nov 2024


Berita Terbaru

Trump ancam serang Iran lagi, laporan korban pesta pernikahan jadi sorotan
Indonesia
•
03 Sep 2026

Perang Iran bikin militer AS kewalahan, 12 kapal perusak dan 2 kapal induk hadapi krisis logistik
Indonesia
•
03 Sep 2026

China gelar upacara penghormatan untuk korban longsor Gyirong: 16 tewas, 546 masih hilang
Indonesia
•
02 Sep 2026

AS serang Iran lagi, Trump ancam serangan lebih dahsyat jika Teheran membalas
Indonesia
•
02 Sep 2026
