
NYT: Dengan kontrak rahasia, AS gunakan ‘spyware’ untuk mata-matai dunia

Foto yang diabadikan pada 3 Februari 2023 ini menunjukkan Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)
Perusahaan Israel NSO Group memberikan akses kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) ke salah satu senjata terkuatnya, yakni alat geolokasi yang secara diam-diam dapat melacak ponsel di seluruh dunia tanpa sepengetahuan atau persetujuan pengguna ponsel.
New York City, AS (Xinhua) – Di bawah kontrak rahasia yang difinalisasi pada 8 November 2021, perusahaan Israel NSO Group memberikan akses kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) ke salah satu senjata terkuatnya, yakni alat geolokasi yang secara diam-diam dapat melacak ponsel di seluruh dunia tanpa sepengetahuan atau persetujuan pengguna ponsel, lapor The New York Times (NYT) pada Ahad (2/4)."Hanya lima hari sebelumnya, pemerintahan Biden mengumumkan pihaknya telah mengambil tindakan terhadap NSO, yang alat-alat peretasnya telah disalahgunakan selama bertahun-tahun oleh pemerintah di seluruh dunia untuk memata-matai lawan politik, aktivis hak asasi manusia, dan jurnalis," kata laporan itu.Gedung Putih memasukkan NSO ke dalam daftar hitam Departemen Perdagangan AS, menyatakan perusahaan tersebut sebagai ancaman keamanan nasional, serta mengirimkan pesan agar perusahaan-perusahaan Amerika berhenti berbisnis dengan perusahaan itu, ungkap laporan.Kontrak rahasia itu "melanggar kebijakan publik pemerintahan Biden dan tampaknya masih aktif," kata laporan NYT. Menurut laporan, kontrak itu menyebutkan bahwa "pemerintah AS" akan menjadi pengguna akhir dari alat tersebut, meski tidak jelas lembaga pemerintah mana yang mengesahkan kesepakatan dan mungkin menggunakan perangkat pengintai (spyware) tersebut.Spyware adalah jenis perangkat lunak berbahaya - atau malware - yang diinstal pada perangkat komputasi tanpa sepengetahuan pengguna akhir. Spyware menyerang perangkat, mencuri informasi sensitif dan data penggunaan internet, dan meneruskannya ke pengiklan, perusahaan data, atau pengguna eksternal lainnya."Ketika ditanya soal kontrak itu, pejabat Gedung Putih mengaku baru mendengar kabar tersebut. Juru bicara Gedung Putih dan Kantor Direktur Intelijen Nasional AS pun menolak berkomentar lebih lanjut, sehingga meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab tentang apa yang sesungguhnya diketahui oleh para pejabat intelijen atau penegak hukum tentang kontrak itu ketika ditandatangani?" tulis laporan NYT."Kontrak rahasia itu lebih lanjut menjelaskan tentang perselisihan yang sedang terjadi, baik antarpemerintah maupun di dalam satu pemerintahan, termasuk AS, tentang pengendali senjata siber yang kuat," imbuh laporan tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Lebih banyak lagi krisis kebakaran hutan terjadi di Kanada bagian barat
Indonesia
•
22 Aug 2023

Pejabat Jerman peringatkan 'situasi serius' di tengah pengurangan pasokan gas Rusia
Indonesia
•
26 Jul 2022

Mongolia tanam 120 juta pohon hingga 2030
Indonesia
•
02 Jun 2022

Jaksa putuskan tak ajukan banding, Presiden Korsel dibebaskan
Indonesia
•
09 Mar 2025


Berita Terbaru

AS intensifkan pengumpulan intelijen militer di lepas pantai Kuba
Indonesia
•
11 May 2026

Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"
Indonesia
•
11 May 2026

Para pemimpin ASEAN rilis pernyataan bersama soal krisis Timur Tengah di KTT ASEAN 2026
Indonesia
•
10 May 2026

AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi
Indonesia
•
08 May 2026
