Perusahaan China teken kerja sama untuk dorong proyek integrasi baja dan kokas di Indonesia

Foto yang diabadikan pada 23 September 2022 ini menunjukkan suasana kerja di Kawasan Industri Morowali Indonesia (IMIP). (Xinhua)

Cadangan gas alam Indonesia menempati peringkat ketiga di kawasan Asia-Pasifik, sementara produksi tahunannya masuk dalam jajaran 10 besar dunia.

 

Shenzhen, China (Xinhua/Indonesia Window) – CIMC Group yang berkantor pusat di Shenzhen pada Kamis (5/2) mengumumkan bahwa anak perusahaannya, CIMC Enric, masing-masing telah menandatangani perjanjian usaha patungan dan perjanjian pasokan gas kokas dengan Qingshan Holding Group Co., Ltd. dan Nanjing Iron & Steel Co., Ltd. untuk bersama-sama mengembangkan proyek ‘produksi LNG dari gas kokas dan produksi bersama metanol’ yang berlokasi di Kawasan Industri Morowali Indonesia (Indonesia Morowali Industrial Park/IMIP), yang selanjutnya disebut sebagai Proyek Qingshan Indonesia. Proyek ini dijalankan oleh CIMC Enric, dengan kapasitas produksi tahunan yang dirancang mencapai 180.000 ton LNG biru dan 100.000 ton metanol biru.

Proyek ini merupakan proyek integrasi baja dan kokas pertama CIMC Group yang direalisasikan di Indonesia, sekaligus menjadi proyek kelima dari jenisnya yang dijalankan oleh perusahaan tersebut. Menurut keterangan, cadangan gas alam Indonesia menempati peringkat ketiga di kawasan Asia-Pasifik, sementara produksi tahunannya masuk dalam jajaran 10 besar dunia.

Namun, akibat karakteristik geografis berupa banyaknya pulau serta distribusi infrastruktur energi yang belum merata, sebagian sektor pertambangan, peleburan, dan manufaktur pengolahan yang sedang berkembang masih kesulitan mendapatkan pasokan energi yang stabil, ekonomis, dan rendah karbon, sehingga membatasi pembangunan industri yang berkelanjutan.

Kawasan Industri Morowali Indonesia, lokasi Proyek Qingshan Indonesia, setelah lebih dari satu dekade pengembangan, telah membangun tata letak rantai industri terintegrasi pertama di dunia yang mencakup seluruh proses, mulai dari penambangan hingga penggulungan dingin baja nirkarat. Kawasan ini juga dilengkapi dengan proyek baja karbon konvensional berskala besar, material baterai energi baru, serta kawasan industri kokas.

Setelah Proyek Qingshan Indonesia beroperasi, CIMC Enric akan bekerja sama dengan para mitra untuk menjamin pasokan gas bahan baku yang stabil, dengan target seluruh produk dapat diserap di dalam negeri. Upaya ini bertujuan membangun skenario tertutup dari sisi sumber daya hingga aplikasi.

Skenario aplikasi hilir yang baru dikembangkan mencakup mikrogrid listrik tambang berbasis ‘LNG + penyimpanan energi surya’, pembangkit listrik LNG terdistribusi di pulau-pulau, serta logistik truk berat berbahan bakar LNG, guna membentuk model energi bersih terdistribusi yang disesuaikan dengan kondisi lokal dalam pola ‘siklus tertutup pulau’.

Sementara itu, Indonesia juga merupakan negara pengimpor metanol. Ke depannya, pasokan metanol dari proyek ini diharapkan dapat memberikan dorongan baru dari dalam negeri bagi produksi biodiesel serta industri kimia lainnya yang terus tumbuh di Indonesia.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait