
Pakar Uzbekistan sebut perubahan kebijakan moneter AS tingkatkan risiko ekonomi global

Seorang pialang saham bekerja di lantai perdagangan (trading) di Bursa Efek New York (New York Stock Exchange/NYSE) di New York, Amerika Serikat (AS), pada 21 Agustus 2024. (Xinhua/Liu Yanan)
Perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) membawa risiko ekonomi jangka panjang yang signifikan di seluruh dunia.
Tashkent, Uzbekistan (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) membawa risiko ekonomi jangka panjang yang signifikan di seluruh dunia, menurut seorang sosiolog."Setelah The Fed menurunkan suku bunganya, modal biasanya bergerak lebih cepat untuk mengejar imbal hasil yang lebih tinggi," ujar Azamat Seitov, kepala Laboratorium Antropologi dan Konflikologi di Institut Studi Internasional Lanjutan di Universitas Ekonomi dan Diplomasi Dunia Uzbekistan."Pergerakan modal yang cepat ini di tingkat global akan berkontribusi terhadap meningkatnya fluktuasi harga di pasar dan memperbesar risiko investasi," tutur Seitov.Kendati dia mengakui penurunan suku bunga Federal Reserve dapat menggenjot likuiditas dolar AS dan memberikan manfaat pada ekonomi global dalam jangka pendek, Seitov memperingatkan bahwa hanya berfokus pada manfaat jangka pendek saja adalah pandangan yang sempit.Dia menuturkan hal ini dapat menyebabkan peningkatan volatilitas pasar, kenaikan inflasi, dan menguatnya risiko utang di negara-negara berkembang dalam jangka menengah hingga panjang."Lebih lanjut, menurunkan suku bunga itu mengurangi daya tarik relatif dari aset-aset berdenominasi dolar AS, yang berpotensi menyebabkan fluktuasi yang signifikan pada nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama lainnya," kata pakar asal Uzbekistan tersebut.Seitov menuturkan perubahan suku bunga bank sentral AS menyebabkan siklus "kemakmuran, krisis, dan penurunan" dalam ekonomi global.Dengan pemilihan presiden AS yang akan digelar kurang dari sepuluh hari lagi, Seitov memperingatkan bahwa strategi "perbaikan cepat yang ajaib" untuk meningkatkan dukungan publik lewat pengendalian inflasi dan pengangguran yang rendah dapat menyebabkan resesi mendalam."Hal ini merupakan konsekuensi dari dominasi dolar AS secara global," ujar cendekiawan Uzbekistan tersebut."Mereka gagal menyadari bahwa dominasi ini," lanjutnya, "baik melalui kebijakan moneter, pasar utang, penetapan harga komoditas global, atau penyebaran krisis keuangan, dapat menyebabkan fluktuasi dalam pasar keuangan global dan melimpahkan permasalahan ekonomi mereka ke negara-negara lain."Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Boeing rugi besar di sektor pertahanan pada kuartal ketiga 2022
Indonesia
•
27 Oct 2022

IMF proyeksikan pertumbuhan PDB Riil AS sebesar 2,6 persen pada 2026
Indonesia
•
26 Feb 2026

Bank of Canada naikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin
Indonesia
•
27 Oct 2022

Operator Jalur Kereta China-Laos diimbau antisipasi arus wisatawan
Indonesia
•
02 Mar 2023


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
