
Feature – Batavia Ware: Jejak keramik yang menghubungkan Nusantara dengan dunia berabad silam

Foto yang diabadikan pada 9 Mei 2026 ini menunjukkan pecahan porselen China yang ditemukan dari sebuah bangkai kapal di Selat Skagerrak di lepas pantai selatan Norwegia. Bangkai kapal abad ke-18 yang mengangkut muatan porselen China dengan kondisi terawetkan paling baik yang pernah ditemukan di Eropa Utara berhasil ditemukan di wilayah perairan Norwegia, ungkap Direktorat Warisan Budaya Norwegia pada Senin (1/6). (Xinhua/Sindre Kinnerod)
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Di sebuah ruang pamer museum di Eropa, para pengunjung mungkin menemukan secangkir porselen berwarna cokelat mengilap dengan bagian dalam berhiaskan motif biru-putih.
Pada labelnya tertulis ‘Batavia ware’. Bagi banyak orang, nama itu seolah menunjukkan bahwa benda tersebut dibuat di Batavia, kini Jakarta. Padahal, kenyataannya lebih menarik.
Porselen itu diproduksi di tanur-tanur Jingdezhen, China, tetapi memperoleh namanya karena menempuh jalur perdagangan yang berpusat di Batavia—pelabuhan yang pernah menjadi salah satu simpul perdagangan terpenting di dunia.
Kisah Batavia Ware memperlihatkan bahwa Nusantara bukan sekadar penghasil rempah-rempah. Selama berabad-abad, wilayah ini merupakan jantung jaringan perdagangan maritim internasional yang menghubungkan China, India, Timur Tengah, hingga Eropa.
Sejarawan T. Volker dalam ‘Porcelain and the Dutch East India Company’ menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-17, kongsi dagang Belanda VOC menjadikan Batavia sebagai pusat pengumpulan, penyimpanan, dan distribusi porselen ekspor dari Asia Timur.
Dari pelabuhan inilah jutaan keping keramik dikirim menuju Amsterdam di Belanda, Stockholm di Swedia, London di Inggris, hingga berbagai pelabuhan di benua Amerika.
Batavia sendiri bukanlah titik awal perdagangan tersebut. Jauh sebelum VOC mendirikan kota itu pada 1619, perairan Nusantara telah menjadi bagian penting dari Jalur Sutra Maritim.
Kapal-kapal dari China membawa porselen, sutra, dan logam; pedagang India mengangkut tekstil; sementara Nusantara memasok rempah-rempah, kayu aromatik, dan hasil hutan yang sangat bernilai di pasar internasional.
Arkeolog dan kurator John Guy dalam ‘Oriental Trade Ceramics in South-East Asia’ menjelaskan bahwa keramik merupakan salah satu bukti paling bertahan lama untuk melacak hubungan perdagangan Asia Tenggara selama lebih dari seribu tahun.
Tidak seperti kain atau kayu yang mudah rusak, porselen mampu bertahan berabad-abad di dasar laut maupun di situs permukiman, sehingga menjadi "penanda" jalur perdagangan kuno.
Jejak itu ditemukan hampir di seluruh Nusantara. Berbagai bangkai kapal yang diekskavasi di Laut Jawa, Selat Malaka, hingga Laut Flores memperlihatkan betapa padatnya lalu lintas perdagangan di kawasan ini.
Muatan kapal tidak hanya berisi rempah, tetapi juga ribuan bahkan ratusan ribu keramik yang diproduksi untuk memenuhi selera pasar Asia maupun Eropa.
Penelitian arkeologi maritim yang dipublikasikan dalam ‘Proceedings of the Centre for Heritage, Arts and Textiles (CHARM)’ menunjukkan bahwa sejak abad ke-17 VOC berkembang menjadi pedagang keramik terbesar di Asia Tenggara.
Batavia menjadi pusat distribusi tempat kapal-kapal dagang China dan Vietnam menurunkan muatannya sebelum barang tersebut diteruskan ke berbagai wilayah di dunia.
Di sinilah lahir apa yang kemudian dikenal sebagai ‘Batavia Ware’. Jenis porselen ini mudah dikenali melalui glasir cokelat tua yang menutupi bagian luar, sementara bagian dalam biasanya dihiasi dekorasi biru-putih atau panel enamel berwarna.
Menurut kajian Baoping Li mengenai ‘Batavian-style Chinese export porcelain’, seluruh porselen tersebut diproduksi terutama di Jingdezhen, Provinsi Jiangxi, kemudian dikirim dalam jumlah besar melalui Batavia oleh perusahaan-perusahaan dagang Eropa. Karena hubungan distribusinya yang sangat erat dengan pelabuhan tersebut, kolektor Barat akhirnya menyebutnya sebagai ‘Batavia Ware’.
Popularitas Batavia Ware mencapai puncaknya pada abad ke-18. Porselen ini menjadi perlengkapan makan kalangan bangsawan dan saudagar kaya di Belanda, Swedia, Inggris, hingga koloni-koloni Eropa di Amerika.
Selera masyarakat Barat terhadap porselen Asia bahkan mendorong berkembangnya industri keramik lokal, termasuk Delftware di Belanda, yang banyak mengadopsi bentuk dan estetika porselen China.
Namun, lebih dari sekadar barang mewah, Batavia Ware mencerminkan sebuah kenyataan penting: perdagangan global telah berlangsung jauh sebelum lahirnya konsep globalisasi modern.
Satu cangkir porselen dapat diproduksi di China menggunakan bahan baku lokal, dibeli oleh pedagang VOC, dipindahkan ke gudang-gudang Batavia, lalu dibawa mengarungi Samudra Hindia, mengelilingi Tanjung Harapan di pesisir Samudra Atlantik, Afrika Selatan, hingga akhirnya menghiasi meja makan keluarga bangsawan di Amsterdam.
Rantai perjalanan itu tidak mungkin terwujud tanpa posisi strategis Nusantara. Letaknya di persimpangan Samudra Hindia dan Laut China Selatan menjadikan kawasan ini sebagai penghubung alami antara Timur dan Barat.
Selama berabad-abad, pelabuhan-pelabuhan di Nusantara bukan hanya menjadi tempat kapal berlabuh, tetapi juga ruang pertemuan budaya, teknologi, bahasa, dan gagasan.
Kini, nama Batavia memang telah berganti menjadi Jakarta. Namun, sebutan ‘Batavia Ware’ tetap hidup di museum, rumah lelang, dan literatur sejarah dunia. Nama itu menjadi pengingat bahwa Indonesia pernah memainkan peran sentral dalam salah satu jaringan perdagangan terbesar yang pernah dibangun manusia.
Di balik kilaunya yang elegan, Batavia Ware bukan sekadar porselen. Ia adalah saksi bisu ketika Nusantara berdiri di persimpangan dunia—tempat berbagai peradaban bertemu, berdagang, dan membentuk sejarah maritim global.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi luncurkan perusahaan senilai 270 juta dolar AS kembangkan Masjidil Haram
Indonesia
•
20 Jan 2021

Papua Nugini tangguhkan impor ayam dan telur dari Australia setelah temuan flu burung H5N1
Indonesia
•
25 Jun 2026

Kerja sama pertanian BRI bantu kurangi kelaparan di negara kurang berkembang
Indonesia
•
09 Dec 2023

Uber laporkan pendapatan 9,2 miliar dolar AS pada kuartal kedua 2023
Indonesia
•
02 Aug 2023


Berita Terbaru

GAC perluas jaringan dealer di Indonesia, pengguna mobil listrik tembus 10.000
Indonesia
•
28 Jun 2026

Xpeng luncurkan X9 Facelift dan G6 AWD di Indonesia, siapkan ekspansi dealer
Indonesia
•
28 Jun 2026

Inflasi yoy Iran tembus 88,6 persen
Indonesia
•
28 Jun 2026

Pariwisata Asia-Pasifik diyakini jadi mesin pertumbuhan baru, ini strategi APEC
Indonesia
•
28 Jun 2026
