
Perubahan iklim dorong deteksi DNA teritip invasif di Arktik Kanada

Kawanan angsa tundra terlihat di Aylmer Wildlife Management Area di Aylmer, Ontario, Kanada, pada 30 Maret 2023. Setiap musim dingin, ribuan angsa tundra liar singgah di Aylmer Wildlife Management Area di Ontario untuk mencari makan di tengah migrasi mereka ke wilayah Arktik yang tinggi. (Xinhua/Zou Zheng)
Perubahan iklim memanaskan Laut Arktik hampir empat kali lebih cepat daripada rata-rata global. Perairan yang dulunya dingin dan menghalangi organisme invasif kini kehilangan perannya sebagai pelindung termal.
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan belum lama ini mendeteksi DNA spesies laut invasif di Arktik Kanada, memberikan bukti bahwa perairan yang menghangat dengan cepat di area tersebut menjadikannya kurang efektif sebagai pelindung alami terhadap ancaman ekologi, menurut sebuah studi terbaru.Penelitian itu, yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology sebelumnya pada pekan ini oleh para ilmuwan di British Antarctic Survey (BAS), menandai identifikasi pertama spesies teritip yang bukan spesies asli daerah tersebut di perairan Arktik Kanada.Perubahan iklim memanaskan Laut Arktik hampir empat kali lebih cepat daripada rata-rata global. Perairan yang dulunya dingin dan menghalangi organisme invasif kini kehilangan perannya sebagai pelindung termal.Penemuan ini dilakukan dengan menggunakan metabarcoding DNA lingkungan (eDNA), suatu teknik yang memungkinkan pendeteksian beberapa spesies dari sampel air tunggal.Saat organisme laut melintasi lautan, mereka melepaskan materi genetik melalui sel kulit, kotoran, dan jejak biologis lainnya. Dengan menganalisis jejak-jejak yang dikumpulkan dari rute kapal pesiar Arktik, para ilmuwan mengidentifikasi teritip teluk (Amphibalanus improvisus) yang bukan spesies asli daerah tersebut.Spesies ini, yang sudah umum di perairan Eropa dan Samudra Pasifik, diketahui menyebabkan pencemaran biologis pada kapal, jaringan pipa, dan infrastruktur pesisir, serta mengganggu ekosistem asli.Spesies invasif laut sering kali terbawa dalam air pemberat kapal (ship ballast water) atau menempel pada lambung kapal. Lalu lintas pelayaran di Arktik Kanada juga telah meningkat lebih dari 250 persen sejak tahun 1990, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan dampak ekologis di masa mendatang."Perubahan iklim benar-benar merupakan inti dari masalah ini," kata Elizabeth Boyse, penulis utama studi ini dan ahli ekologi di BAS."Jumlah kapal meningkat karena berkurangnya es laut yang kemudian memberi jalan bagi rute pelayaran baru. Selain itu, spesies invasif yang terbawa oleh kapal yang berlayar ke Arktik kini menjadi lebih mungkin bertahan hidup dan membentuk populasi karena suhu air yang lebih hangat," kata Boyse.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Astronaut relokasi pelabuhan ‘docking’ wahana SpaceX di stasiun luar angkasa
Indonesia
•
03 May 2023

Airbus luncurkan proyek daur ulang pesawat global pertamanya di China barat daya
Indonesia
•
26 Jan 2024

COVID-19 – Studi: Infeksi dapat ditularkan oleh orang yang divaksinasi lengkap di rumah
Indonesia
•
29 Oct 2021

WWF usulkan batasi pelayaran di Arktik demi keselamatan paus
Indonesia
•
21 Feb 2022


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
