
Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño

Anak-anak pengungsi berdiri di dekat tenda mereka di sebuah kamp di pinggiran Aden, Yaman, pada 3 November 2025. (Xinhua/Murad)
Manila, Filipina (Xinhua/Indonesia Window) – Konflik yang kian memanas dan fenomena El Nino yang kuat menjadi dua risiko utama bagi perekonomian-perekonomian berkembang di Asia dan Pasifik, demikian menurut laporan yang dirilis Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) pada Rabu (23/9).
Asian Development Outlook (ADO) September 2026 memproyeksikan pertumbuhan negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik akan melambat dari 5,5 persen pada 2025 menjadi 5 persen tahun ini, sebelum sedikit meningkat menjadi 5,1 persen pada 2027. Proyeksi tersebut 0,1 poin persentase lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya pada Juli.
Menurut ADB, perkiraan inflasi perekonomian-perekonomian berkembang di kawasan Asia-Pasifik untuk 2026 direvisi turun menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen pada Juli, karena langkah-langkah stabilisasi harga sebagian mengimbangi dampak harga energi yang terus tinggi.
Namun, proyeksi inflasi untuk 2027 direvisi naik tipis menjadi 3,5 persen, dibandingkan 3,4 persen pada Juli. Proyeksi inflasi yang telah direvisi untuk kedua tahun tersebut tetap lebih tinggi daripada angka 3 persen yang tercatat pada 2025.
ADB mengatakan meluasnya konflik di Timur Tengah dan meningkatnya intensitas konflik Rusia-Ukraina dapat membuat harga energi global tetap tinggi dan bergejolak, serta berdampak terhadap komoditas lainnya.
Laporan itu juga mencatat bahwa El Nino yang sangat kuat diperkirakan akan terus berlangsung hingga kuartal pertama 2027. Cuaca diperkirakan akan lebih kering dan berpotensi menyebabkan hasil panen yang lebih rendah serta berkurangnya produksi listrik tenaga air, yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan energi, menurunkan produksi pertanian, serta mendorong kenaikan harga bahan bakar dan pangan.
Presiden ADB Masato Kanda mengatakan pemerintah negara-negara tersebut perlu bersiap dan melindungi masyarakat yang paling rentan, di tengah semakin menguatnya fenomena El Nino, krisis energi yang berkepanjangan, dan risiko-risiko kembali muncul di pasar keuangan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

OPEC pertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk 2025 dan 2026
Indonesia
•
14 Feb 2025

Laba operasional Samsung Electronics anjlok 95,5 persen pada Q1 2023
Indonesia
•
28 Apr 2023

Indonesia harapkan peningkatan volume ekspor produk laut ke pasar China
Indonesia
•
11 Nov 2023

Feature – Manis dan asam buah salak Indonesia pikat lidah masyarakat China
Indonesia
•
10 Jul 2025


Berita Terbaru

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Kuliah tinggi, tapi menganggur: Krisis ‘skill’ dan AI hantui anak muda Asia
Indonesia
•
22 Sep 2026

Fokus Berita – Dari kopi hingga AI, China-ASEAN Expo buka peluang baru bagi produk Indonesia
Indonesia
•
22 Sep 2026
