Feature – Harga solar naik 40 persen, krisis biaya hidup Suriah menjalar ke transportasi dan pangan

Sejumlah kendaraan terhenti di belakang tumpukan batu dan berbagai penghalang lainnya yang menutup jalan di dekat Tal Tamr, Provinsi Hasakah, Suriah timur laut, pada 14 September 2026. Warga memblokir jalan sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga bahan bakar di Suriah. (Xinhua/Str)

Hasakah, Suriah (Xinhua/Indonesia Window) – Batu-batu berserakan di ruas jalan raya M4 dekat Kota Tal Tamr, Suriah timur laut, pada Senin (14/9).

Sementara itu, ban-ban yang dibakar mengepulkan asap hitam ke langit di bawah rambu-rambu jalan yang menunjukkan arah menuju Hasakah, Aleppo, Raqqa, dan Ras al-Ain.

Di balik barikade darurat tersebut, ratusan truk tangki minyak terhenti, dengan para pengemudinya tertahan karena warga memblokir jalan raya utama itu untuk hari kedua berturut-turut sebagai bentuk protes terhadap kenaikan tajam harga bahan bakar.

Blokade ini mencerminkan kecemasan ekonomi yang muncul akibat pemberlakuan harga baru pada 13 September, terutama kenaikan harga solar sebesar 40 persen.

Bagi warga seperti Ibrahim al-Salman, persoalannya bukan sekadar membandingkan harga bahan bakar di Suriah dengan harga di luar negeri, melainkan juga membandingkan pendapatan warga Suriah dengan biaya yang harus mereka keluarkan.

"Kalau mengikuti harga minyak global, ikuti juga pendapatan global!" kata al-Salman kepada Xinhua.

Kekecewaannya mencerminkan krisis yang lebih dalam. Bertahun-tahun konflik, inflasi, dan hilangnya mata pencaharian telah menggerus daya beli rumah tangga secara signifikan.

Bank Dunia menyebut perekonomian Suriah menyusut lebih dari separuh selama periode 2010-2024, sementara pendapatan nasional bruto per kapita turun menjadi 830 dolar AS pada 2024.

*1 dolar AS = 17.635 rupiah

Sekitar seperempat warga Suriah diperkirakan hidup dalam kemiskinan ekstrem, sementara sekitar dua pertiga berada di bawah garis kemiskinan untuk negara berpendapatan menengah ke bawah.

Program Pangan Dunia (WFP) memperkirakan 7,2 juta orang di Suriah masih mengalami kerawanan pangan akut, termasuk 1,6 juta orang yang berada dalam kondisi parah.

Kenaikan harga bahan bakar terbaru itu semakin menambah tekanan ekonomi. Harga solar naik 40 persen, dari 125 menjadi 175 pound Suriah per liter, sedangkan harga bensin oktan 90 dan oktan 95 masing-masing meningkat hampir 26 persen dan lebih dari 28 persen. Harga gas rumah tangga pun turut naik.

**1 pound Suriah = 1,59 rupiah

Di Tal Tamr, para pengunjuk rasa menggunakan batu, ban yang dibakar, serta memadati jalan raya untuk mencegah truk tangki dan truk lainnya melintas.

Mohammad Nouri, warga lainnya, mengatakan kepada Xinhua bahwa jalan itu telah ditutup bagi truk tangki dan truk lainnya selama sekitar 48 jam dan aksi protes akan terus berlangsung hingga keputusan tersebut ditinjau kembali.

"Kami tidak akan berhenti sampai keputusan itu dibatalkan," kata Nouri.

Blokade menimbulkan sebuah paradoks. Aksi protes terhadap kenaikan harga bahan bakar kini justru mengganggu pergerakan minyak yang menjadi sumber energi utama sistem energi Suriah.

Ratusan truk tangki terhenti di sepanjang jalan raya itu, sebagian bermuatan dan lainnya menunggu untuk bergerak menuju ladang-ladang minyak di Suriah timur laut.

Seorang pengemudi truk tangki yang memperkenalkan dirinya sebagai Ibrahim mengatakan kepada Xinhua bahwa sekitar 600 truk tangki terjebak, tanpa "air, makanan, apa pun."

Namun, sejumlah pengemudi mengatakan mereka turut merasakan keresahan para pengunjuk rasa.

Zakaria Ahmed mengatakan kenaikan harga solar telah mengubah perhitungan ekonomi dalam pengoperasian truk tangki. Jika sebelumnya satu perjalanan dapat menghasilkan sekitar 1.500 dolar AS, kini sekitar 1.200 dolar AS harus digunakan untuk membeli solar, sementara 300 dolar AS sisanya diberikan kepada pengemudi.

"Sama sekali tidak ada yang tersisa untuk kendaraan," kata Ahmed.

Kemarahan ini juga terjadi di luar Tal Tamr. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights/SOHR) melaporkan adanya aksi protes dan pemblokiran jalan di sejumlah wilayah provinsi Hasakah, Deir al-Zour, dan Raqqa, disertai aksi mogok yang dilakukan sejumlah pengemudi minibus.

Di Raqqa, lembaga pemantau yang berbasis di Inggris itu melaporkan terganggunya perdagangan buah dan sayuran di pasar grosir kota tersebut akibat meningkatnya biaya transportasi.

Dampaknya jauh melampaui harga di stasiun pengisian bahan bakar. Solar menggerakkan transportasi barang dan sektor pertanian serta membantu mendistribusikan makanan dan berbagai barang lainnya. Oleh karena itu, kenaikan biaya bahan bakar mengancam menimbulkan efek berantai pada perekonomian yang sudah berada di bawah tekanan.

Sementara itu, pihak berwenang menghadapi persoalan pasokan. Data resmi menunjukkan bahwa Suriah mengimpor sekitar 74 persen kebutuhan solarnya, 81 persen kebutuhan bensin, dan 96 persen kebutuhan gas rumah tangga. Keterbatasan kapasitas pengilangan dalam negeri semakin memperburuk tekanan tersebut.

Saat ini Suriah memproduksi sekitar 100.000 barel minyak mentah per hari, dibandingkan dengan perkiraan kebutuhan energi domestik yang setara dengan sekitar 300.000 barel per hari.

Otoritas berwenang mengatakan harga baru tersebut dapat ditinjau kembali dan berpotensi naik atau turun bergantung pada harga internasional, biaya pengadaan dan pengiriman, nilai tukar, produksi dalam negeri, serta kapasitas produksi dan pengilangan.

Mereka juga menyoroti berbagai upaya mengurangi ketergantungan pada impor, antara lain dengan mengaktifkan kembali sumur-sumur minyak dan merehabilitasi kilang. Menurut data resmi, pada paruh pertama 2026, sebanyak 152 sumur kembali beroperasi, sementara 10 sumur tambahan mulai berproduksi.

Namun, untuk saat ini, rencana jangka panjang tersebut belum banyak membantu meringankan beban rumah tangga yang kini harus menghadapi kenaikan biaya hidup.

Di jalan raya M4, para pengunjuk rasa menuntut bahan bakar dengan harga terjangkau, para pengemudi truk tangki menunggu untuk kembali bekerja, dan deretan kendaraan terhenti di sepanjang jalan raya yang menjadi urat nadi perekonomian yang tengah berjuang untuk pulih.

Bagi al-Salman, persoalan tersebut pada akhirnya kembali pada kesenjangan antara harga dan pendapatan.

"Naikkan juga pendapatan kami," katanya. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait