Perkakas berusia 200.000 tahun dari Zaman Batu ditemukan di Qassim Arab Saudi

Perkakas berusia 200.000 tahun dari Zaman Batu ditemukan di Qassim Arab Saudi
Sebuah tim penelitian dari Otoritas Warisan Arab Saudi menemukan perkakas batu yang digunakan oleh penduduk peradaban Asiria pada periode Paleolitik (3,3 juta – 10.000 tahun yang lalu) yang berasal dari 200.000 tahun yang lalu. (Saudi Gazette)

Jakarta (Indonesia Window) – Sebuah tim penelitian dari Otoritas Warisan Arab Saudi menemukan perkakas batu yang digunakan oleh penduduk peradaban Asiria pada periode Paleolitik (3,3 juta – 10.000 tahun yang lalu) yang berasal dari 200.000 tahun yang lalu.

Otoritas Warisan mengatakan dalam pernyataan pers bahwa perkakas batu yang ditemukan dari daerah Shuaib Al-Adgham, yang terletak di timur wilayah Al-Qassim, adalah kapak batu dari periode Paleolitik Tengah (300.000 – 50.000 tahun lalu), menurut laporan Saudi Gazette yang dikutip di Jakarta, Jumat.

Perkakas yang ditemukan adalah kapak batu yang unik dan langka, yang dibuat dengan ketepatan tinggi, dan digunakan oleh sekelompok manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Banyaknya perkakas batu yang ditemukan dari situs tersebut menunjukkan kepadatan komunitas prasejarah yang hidup di Shuaib Al-Adgham.

Penemuan tersebut juga merupakan indikasi yang jelas bahwa kondisi iklim di Jazirah Arab sangat cocok untuk manusia karena mereka mendapatkan sumber daya alam yang melimpah.

Gambar satelit menunjukkan bahwa Shuaib Al-Adgham dan situs lainnya terhubung dengan jalur sungai, yang memastikan bahwa manusia menggunakan morfologi tersebut untuk menjangkau jauh ke dalam wilayah pedalaman Jazirah Arab pada zaman kuno.

Menurut distribusi spasial yang luas dari situs Asiria, situs-situs tersebut adalah konsentrasi terbesar dari tempat tinggal manusia di seluruh dunia.

Hal tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok manusia di Jazirah Arab mampu melintasi petak yang luas dari jarak geografis, sementara sejumlah besar situs yang berpusat di sekitar lembah dan sungai kuno menunjukkan bahwa kelompok-kelompok ini secara bertahap menyebar dan menemukan situs baru saat mereka membutuhkannya.

Situs-situs arkeologi tersebut dicirikan oleh penyebaran pecahan batu yang tersebar dan peralatan yang dibuat.

Pihak berwenang menyatakan bahwa sejumlah besar informasi lingkungan dan budaya baru telah dikumpulkan, dan hasilnya menunjukkan bahwa ada perubahan lingkungan yang signifikan, mulai dari yang sangat gersang hingga lembab.

Bukti saat ini sangat mendukung pernyataan tentang keberadaan ‘Semenanjung Arab Hijau’ (Green Arabian Peninsula) di masa lalu.

Selama fase basah peradaban manusia, terdapat sungai dan danau di seluruh Jazirah Arab, yang menyebabkan penyebaran dan perluasan kelompok manusia tersebut.

Hal itu menegaskan bahwa Semenanjung Arab adalah persimpangan jalan utama antara Afrika dan seluruh Asia sepanjang masa prasejarah.

Selain itu, Jazirah Arab merupakan salah satu tempat pemukiman pada periode Zaman Batu.

Dipercaya bahwa migrasi kuno kelompok manusia di dunia melalui dua jalur utama, yakni Selat Bab Al-Mandab dan Koridor Semenanjung Sinai.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here