
Laporan PBB: Pertumbuhan global diperkirakan melambat hingga 2,6 persen pada 2025

Foto yang diabadikan di Pelabuhan Vancouver ini menunjukkan sebuah 'gantry crane' mengangkat kontainer kargo di Terminal Kontainer Centerm, Vancouver, Kanada, pada 5 Juni 2025. (Xinhua/Liang Sen)
Perekonomian berkembang diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,3 persen, jauh lebih cepat dibandingkan dengan perekonomian maju.
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Pertumbuhan global diperkirakan akan melambat menjadi 2,6 persen pada 2025, turun dari 2,9 persen pada 2024, akibat tekanan yang semakin besar dari volatilitas keuangan serta ketidakpastian geopolitik yang dihadapi oleh perdagangan dan investasi global, demikian disampaikan oleh Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) dalam laporan yang dirilis pada Selasa (2/12).Laporan Perdagangan dan Pembangunan UNCTAD 2025 menunjukkan bahwa pergeseran di pasar keuangan memengaruhi perdagangan global hampir sama kuatnya dengan aktivitas ekonomi riil, yang mempengaruhi prospek pembangunan di seluruh dunia, ungkap badan perdagangan PBB tersebut.Laporan itu menyebutkan bahwa meskipun ada potensi keuntungan dari teknologi baru seperti kecerdasan buatan, pertumbuhan global diperkirakan tetap moderat pada 2026, sebesar 2,6 persen.UNCTAD menyatakan bahwa proyeksinya didasarkan pada agregat pertumbuhan global menggunakan bobot kurs pasar (market exchange rate/MER) daripada bobot paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) yang digunakan oleh OECD, dengan yang terakhir menghasilkan perkiraan pertumbuhan global yang lebih tinggi. Pada hari yang sama, OECD memprediksi bahwa pertumbuhan PDB global akan melambat dari 3,2 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen pada 2026.Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan mengatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan bagaimana kondisi keuangan semakin menentukan arah perdagangan global. "Perdagangan bukan hanya rantai pasokan. Ini juga merupakan rantai kredit, sistem pembayaran, pasar mata uang, dan aliran modal," katanya.Laporan itu juga menyebutkan bahwa perekonomian berkembang diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,3 persen, jauh lebih cepat dibandingkan dengan perekonomian maju.Namun, faktor-faktor seperti biaya pendanaan yang lebih tinggi, paparan yang lebih besar terhadap pergeseran mendadak dalam aliran modal, dan risiko keuangan terkait iklim yang meningkat, kian membatasi ruang fiskal dan investasi yang dibutuhkan oleh perekonomian berkembang untuk mempertahankan pertumbuhan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Microsoft akan investasikan 3,2 miliar euro untuk infrastruktur AI di Jerman
Indonesia
•
16 Feb 2024

Pariwisata jadi kontributor signifikan timbulan sampah di Bali
Indonesia
•
08 Feb 2026

Empat maskapai China beli 292 pesawat Airbus, buat Boeing kecewa
Indonesia
•
02 Jul 2022

China dan ASEAN rilis pernyataan bersama terkait penyelesaian negosiasi peningkatan FTA
Indonesia
•
11 Oct 2024


Berita Terbaru

Qantas selesaikan gugatan ‘class action’ terkait kredit perjalanan untuk penerbangan yang dibatalkan
Indonesia
•
13 Mar 2026

PM Takaichi: Jepang akan lepas cadangan minyak paling cepat Senin
Indonesia
•
12 Mar 2026

Harga listrik Singapura akan naik di tengah konflik Timur Tengah
Indonesia
•
12 Mar 2026

Selandia Baru Akan lepas pasokan bahan bakar setara 6 hari di bawah rencana minyak IEA
Indonesia
•
12 Mar 2026
