
Perawatan 'kanguru' kulit ke kulit tingkatkan kelangsungan hidup bayi prematur

Ilustrasi. (Luma Pimentel on Unsplash)
Perawatan kanguru dilakukan dengan membungkus bayi baru lahir prematur atau yang memiliki berat badan kecil dalam gendongan yang dikenakan oleh ibu atau pengasuh, alih-alih memisahkan mereka dari orangtua langsung setelah lahir untuk memberikan perawatan.
Jakarta (Indonesia Window) – Bayi yang lahir terlalu dini atau terlalu kecil harus tetap melakukan kontak ‘kulit ke kulit’ dengan pengasuhnya daripada dimasukkan ke dalam inkubator langsung setelah lahir. Hal ini bertujuan meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini.Pedoman baru seputar perawatan ‘ibu kanguru’ atau kangaroo mother care menandai perubahan signifikan tentang protokol untuk bayi prematur dan saran sebelumnya dari WHO. Pedoman tersebut juga sangat relevan untuk kelahiran di daerah dengan akses yang rendah untuk teknologi dan listrik yang andal, kata WHO.“Pedoman ini menunjukkan bahwa meningkatkan kelangsungan hidup bayi mungil ini tidak selalu tentang memberikan solusi paling berteknologi tinggi,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Panduan ini berlaku untuk semua bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 pekan atau berat badan di bawah 2,5 kilogram, kecuali bayi yang membutuhkan bantuan pernapasan, ventilasi mekanis, atau mengalami syok.Perawatan kanguru dilakukan dengan membungkus bayi baru lahir prematur atau yang memiliki berat badan kecil dalam gendongan yang dikenakan oleh ibu atau pengasuh, alih-alih memisahkan mereka dari orangtua langsung setelah lahir untuk memberikan perawatan.Bayi yang lahir lebih awal seringkali kekurangan lemak tubuh dan dapat mengalami masalah dalam mengatur suhu atau pernapasannya. Sebelumnya, rekomendasi menyerukan agar kondisi mereka distabilkan dalam inkubator atau lebih hangat langsung setelah lahir, kata WHO, yang biasanya memakan waktu sekitar 3-7 hari.Tetapi penelitian baru menunjukkan bahwa memulai perawatan kanguru dan mendorong ibu untuk menyusui segera, bukan setelah bayi stabil, bisa menyelamatkan hingga 150.000 nyawa bayi dalam setahun.WHO mengatakan, perubahan panduan itu memerlukan pemikiran ulang tentang bagaimana bayi mungil dirawat, termasuk lebih banyak dukungan bagi keluarga untuk tetap bersama bayi mereka. Perawatan kulit-ke-kulit sesegera mungkin sudah menjadi standar emas untuk bayi sehat yang lahir cukup bulan.Secara global, 15 juta bayi per tahun, atau 1 dari 10, lahir prematur, dan 20 juta memiliki berat lahir rendah. Prematuritas adalah penyebab utama kematian anak di bawah 5 tahun.Sumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pacuan kuda tradisional Gayo kembali digelar, jadi simbol solidaritas pascabanjir
Indonesia
•
16 Jun 2026

Taiwan sumbang 300 ribu masker kesehatan untuk Indonesia
Indonesia
•
15 May 2020

Gedung Putih luncurkan akun TikTok resmi
Indonesia
•
22 Aug 2025

Pemilik Red Bull, triliuner Dietrich Mateschitz, meninggal di usia 78 tahun
Indonesia
•
24 Oct 2022


Berita Terbaru

UNESCO tambah 25 Warisan Dunia baru, tiga situs terdampak konflik ditetapkan lewat prosedur darurat
Indonesia
•
29 Jul 2026

Stok darah O di AS tinggal kurang dari sehari, Palang Merah umumkan krisis nasional
Indonesia
•
29 Jul 2026

Kali pertama dalam 42 tahun, populasi warga negara Jepang turun di bawah 120 juta
Indonesia
•
29 Jul 2026

Feature – Dari Sungai Cisadane, tradisi perahu naga terus mengayuh lintas generasi
Indonesia
•
27 Jul 2026
