1,8 miliar orang di dunia kurang olahraga, WHO nilai china punya praktik yang efektif

Martin Taylor berbicara dalam Konferensi Tahunan Forum Boao untuk Asia (Boao Forum for Asia/BFA) 2025 di Boao, Provinsi Hainan, China selatan, pada 26 Maret 2025. (Xinhua/Zhang Liyun)

Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – China telah mengembangkan praktik-praktik untuk mendorong aktivitas fisik yang layak dipromosikan secara internasional, khususnya di negara-negara berkembang.

Itulah pandangan Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk China Martin Taylor, yang menyebutkan kemajuan negara tersebut dalam menciptakan lingkungan yang memudahkan masyarakat untuk berolahraga.

"China berada di posisi yang sangat baik dengan fondasi yang kuat," ungkap Taylor setelah menandatangani sebuah surat pernyataan niat (letter of intent/LoI) dengan Institut Ilmu Olahraga China (China Institute of Sport Science). Dia menyebutkan berbagai upaya, mulai dari inisiatif kebijakan nasional hingga pengembangan ruang publik serta integrasi layanan olahraga dan kesehatan di tingkat komunitas.

Kurangnya aktivitas fisik masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat global utama. Menurut data WHO, 31 persen orang dewasa di seluruh dunia, atau sekitar 1,8 miliar orang, tidak memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan, sementara angka tersebut meningkat menjadi 80 persen di kalangan remaja.

Setiap tahun, sekitar 830.000 kasus kematian akibat penyakit tidak menular dikaitkan dengan kurangnya aktivitas fisik.

"Pertama-tama, perhatian yang diberikan oleh pimpinan negara terhadap kesehatan dan olahraga sangatlah penting," ujar Taylor. "Apa yang kita lihat adalah komitmen dalam Rencana Lima Tahun ke-15 untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional, yang menempatkan masyarakat sebagai pusat dan kesehatan sebagai pusat, serta mengakui olahraga sebagai bagian penting dari hal tersebut."

Dia juga memuji investasi China dalam hal ruang publik.

"Jika Anda perhatikan banyak kota besar dan kecil di China saat ini, Anda akan melihat taman-taman yang dilengkapi dengan jalur lari, di sepanjang sungai dan kanal, tempat-tempat bagi masyarakat untuk berjalan kaki, berlari, dan menari, serta gimnasium luar ruangan yang dapat dikunjungi masyarakat," tuturnya. "Investasi dalam hal ruang terbuka, taman, dan jalur pejalan kaki di tepi sungai memberikan kesempatan luar biasa bagi masyarakat untuk berolahraga.

Taylor menyebut Olympic Forest Park di Beijing sebagai contohnya.

"Di sini, Anda memiliki ruang yang luar biasa, yang selalu dipenuhi orang-orang yang berolahraga setiap akhir pekan, tidak hanya berjalan dan berlari, tetapi bahkan ada fasilitas panjat tebing di sana," sebutnya.

Dia juga menyoroti ketersediaan layanan sewa sepeda yang tersebar luas di kota-kota China, menyebutkan bahwa hal itu telah membuat bersepeda menjadi bentuk olahraga yang mudah diakses bagi jutaan orang.

"Kini, banyak orang dapat berangkat kerja dengan menggunakan layanan sewa sepeda. Dua puluh tahun lalu, itu hal yang mustahil," kata Taylor.

Di tingkat komunitas, dia memuji upaya-upaya untuk mengintegrasikan olahraga dan layanan kesehatan.

"Kami melihat, misalnya, integrasi olahraga dan kesehatan di tingkat komunitas, dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan, menggunakan pusat olahraga untuk berintegrasi, memungkinkan masyarakat untuk memperoleh pemahaman tentang kondisi kesehatan mereka dari para dokter, lalu beralih ke olahraga, agar dapat melakukan jenis olahraga atau aktivitas fisik yang mereka butuhkan untuk membantu mengatasi kondisi mereka," paparnya. "Inisiatif-inisiatif semacam ini sungguh luar biasa."

"Jika Anda punya waktu 20 atau 30 menit sehari untuk dihabiskan di media sosial, Anda punya jumlah waktu yang sama untuk berolahraga," imbuhnya. "Olahraga tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menyenangkan." 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait