
Media sebut tarif tinggi untuk mobil listrik buatan China rugikan konsumen AS

Foto yang diabadikan pada 10 Januari 2024 ini menunjukkan sebuah pabrik produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) China Li Auto Inc. di Changzhou, Provinsi Jiangsu, China timur. (Xinhua/Ji Chunpeng)
Perang dagang teknologi bersih antara Amerika Serikat dan China juga dapat meningkatkan biaya kendaraan listrik (electric vehicle/EV), baterai, dan perangkat keras EV lainnya, sehingga membuat harga EV secara keseluruhan tetap tinggi.
Beijing, China (Xinhua) – Beberapa media Barat meyakini bahwa keputusan Gedung Putih pada Selasa (14/5) untuk menaikkan tarif impor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) China dari sekitar 25 persen menjadi 100 persen akan merugikan tujuan iklim, daya saing industri, dan kepentingan konsumen Amerika Serikat (AS)."Konsumen AS sebagian besar belum menyadari betapa bagus dan murahnya mobil listrik buatan China, dan kenaikan tarif baru ini akan membuat mereka tidak menyadari hal itu," menurut sebuah artikel yang diterbitkan pada Selasa oleh majalah Foreign Policy. "Bagaimanapun, warga Amerika akan lebih lambat untuk beralih ke EV jika mereka hanya memiliki pilihan yang mahal."Sebuah analisis oleh majalah The Economist pada Selasa menunjukkan bahwa "produsen dalam negeri AS mungkin juga merasa kurang mendapat insentif untuk mengembangkan barang murah dalam jangka panjang, karena mengetahui bahwa mereka terlindung dari persaingan asing ... Di balik tembok tarif 100 persen, para pejabat dan bos perusahaan Amerika akan memiliki lebih sedikit urgensi untuk memberikan jawaban.""Rencana pemerintahan Biden untuk mengenakan tarif baru yang berat pada kendaraan dan baterai listrik China akan memberikan perlindungan sementara bagi lapangan kerja di sektor otomotif AS, yang berpotensi merugikan upaya Gedung Putih untuk memerangi perubahan iklim dengan mempercepat adopsi kendaraan listrik AS," seperti tertulis dalam laporan Reuters yang dipublikasikan pada Selasa.Menurut laporan tersebut, para eksekutif industri dan beberapa analis percaya bahwa perang dagang teknologi bersih antara Amerika Serikat dan China juga dapat meningkatkan biaya EV, baterai, dan perangkat keras EV lainnya, sehingga membuat harga EV secara keseluruhan tetap tinggi."Jika General Motors, Ford, dan Stellantis tidak harus bersaing dengan perusahaan asing yang memproduksi mobil listrik, mereka tidak akan memproduksi. Pasar akan beralih ke (produsen mobil listrik China) BYD," kata Daniel Becker dari Center for Biological Diversity, sebuah organisasi lingkungan yang mendesak pemerintahan Biden untuk membuat kebijakan iklim yang lebih kuat.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Airbus kirim pesawat A320 rakitan China yang ke-700
Indonesia
•
09 Jul 2024

Laporan sebut ekonomi China tunjukkan ketangguhan luar biasa pada 2025
Indonesia
•
05 Mar 2026

BAIC berencana perkenalkan dua mobil listrik di Indonesia pada 2026
Indonesia
•
06 Mar 2026

Dongkrak harga minyak, OPEC+ sepakat perpanjang pemangkasan produksi
Indonesia
•
04 Jun 2024


Berita Terbaru

FreeNow hadir di Morowali, investasi China diharapkan gerakkan ekonomi lokal
Indonesia
•
28 Oct 2026

Impor BBM Indonesia dari China bisa melonjak 8 kali lipat, dari 6,6 triliun rupiah jadi 54,45 triliun rupiah
Indonesia
•
28 Oct 2026

Arab Saudi simpan minyak mentah di Jurong Rock Caverns Singapura
Indonesia
•
26 Oct 2026

Danantara buka penjajakan dengan 11 perusahaan China, investasi PLTS dan hilirasasi mineral jadi sorotan
Indonesia
•
27 Oct 2026
