
Perang besar makin dekat? 36 persen responden PBB prediksi terjadi dalam setahun

Para demonstran yang membawa poster ambil bagian dalam aksi unjuk rasa Hari Buruh Internasional (May Day) di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 1 Mei 2026. (Xinhua/Qiu Chen)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Perang berskala besar semakin dipandang sebagai risiko global yang dapat segera terjadi, demikian menurut sebuah survei Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam Laporan Risiko Global (Global Risk Report) 2026 yang dirilis pada Selasa (15/9), perang berskala besar naik 16 peringkat dalam hal kemungkinan terjadinya dalam waktu dekat, dibandingkan dengan Laporan Risiko Global pertama yang diterbitkan badan dunia tersebut pada 2024.
Perang berskala besar mencatat kenaikan peringkat terbesar dalam survei tersebut. Sekitar 36 persen responden memperkirakan perang berskala besar akan terjadi dalam satu tahun, sedangkan 76 persen dalam waktu tujuh tahun, menurut laporan 2026 itu.
Laporan ini didasarkan pada survei terhadap 1.300 pemangku kepentingan dari kalangan pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil, dan sistem PBB, yang mencakup seluruh kawasan di dunia.
Para responden menilai 28 risiko global yang dikelompokkan ke dalam lima kategori, yakni politik, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan sosial. Untuk setiap risiko, mereka menilai kemungkinan terjadinya, tingkat keparahan, seberapa cepat risiko tersebut dapat terwujud, kesiapan lembaga multilateral dalam menanganinya, serta faktor-faktor yang dapat membantu atau menghambat respons yang efektif.
Risiko lain yang mengalami kenaikan signifikan dalam daftar tersebut adalah krisis keuangan global yang naik 12 peringkat, keruntuhan rantai pasokan yang naik 12 peringkat, serta gangguan keamanan siber yang naik tujuh peringkat.
Sementara itu, penurunan peringkat terbesar terjadi pada risiko penurunan keanekaragaman hayati yang turun 17 peringkat, polusi berskala besar yang turun 10 peringkat, kelangkaan sumber daya alam yang turun delapan peringkat, serta risiko biologis yang juga turun delapan peringkat.
Para responden menilai sistem multilateral paling tidak siap dalam menghadapi risiko teknologi global. Dari 28 risiko yang dinilai, konsentrasi kekuatan yang didorong teknologi menempati peringkat ke-22 dalam hal kesiapan, kecerdasan buatan (AI) dan teknologi mutakhir di peringkat ke-24, gangguan keamanan siber di peringkat ke-26, dan bencana rekayasa kebumian (geoengineering) di peringkat ke-27.
"Laporan Risiko Global 2026 menyajikan bukti yang harus menjadi landasan dalam menentukan pilihan kita. Kita berkewajiban kepada generasi sekarang dan mendatang untuk menggunakan pengetahuan ini dengan bijaksana dan bertindak selagi kerja sama masih dapat membentuk jalan menuju masa depan yang lebih aman. Pilihan ada di tangan kita," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam kata pengantar laporan tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China kecam Senat AS lantaran gembar-gemborkan soal "ancaman China"
Indonesia
•
21 Feb 2023

Gazprom Rusia kirim 42,1 juta meter kubik gas ke Eropa melalui Sudzha Ukraina
Indonesia
•
03 Jul 2022

Syekh Assudais luncurkan proyek masa depan dua masjid suci
Indonesia
•
11 Oct 2023

Mediasi gencatan senjata raih momentum, warga Gaza dambakan perdamaian dan kehidupan normal
Indonesia
•
23 Dec 2024


Berita Terbaru

Sekitar 500.000 orang ikut demo di Prancis, 200.000 pengunjuk rasa padati Paris
Indonesia
•
01 Nov 2026

Esai – Di usia 16 tahun, saya memanggul senapan dan merindukan rumah
Indonesia
•
30 Oct 2026

Netanyahu terdesak, oposisi unggul dalam ‘exit poll’, tetapi mayoritas masih buntu
Indonesia
•
28 Oct 2026

Fokus Berita – Pemilu Israel di tengah operasi militer, warga Palestina khawatir kehidupan kian sulit
Indonesia
•
28 Oct 2026
