
Studi: Makanan kaya selenium dapat digunakan untuk lawan Alzheimer

Sebuah patung otak terlihat dalam pameran seni Brain Project di Nathan Phillips Square Pond di Toronto, Kanada, pada 21 Juli 2021. Dengan memamerkan 50 patung otak karya seniman lokal dan internasional, pameran seni Brain Project digelar di sejumlah tempat paling banyak dikunjungi di Toronto guna meningkatkan kesadaran tentang kesehatan otak serta pendanaan untuk penelitian Alzheimer dan demensia. (Xinhua/Zou Zheng)
Penyakit Alzheimer (AD) dapat diringankan dengan mengonsumsi makanan dan bahan makanan yang diperkaya selenium karena mampu menghambat peradangan dan stres oksidatif.
Beijing, China (Xinhua) – Tim peneliti China baru-baru ini mengajukan bukti penggunaan makanan dan bahan makanan yang diperkaya selenium untuk meringankan penyakit Alzheimer (AD), menurut Institut Mikrobiologi di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Guangdong.Studi baru tersebut menunjukkan bahwa bahan makanan yang diperkaya selenium dapat menghambat peradangan dan stres oksidatif, menunjukkan potensi strategi diet baru bagi pasien AD.AD merupakan sebuah penyakit saraf yang ditandai dengan kehilangan ingatan dan penurunan kemampuan belajar, yang dapat mengganggu kemampuan seorang individu dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan memperburuk kualitas hidup mereka. Penggunaan bahan makanan yang diperkaya selenium makin banyak diminati dalam studi AD.Sebuah kelompok studi gabungan yang terdiri dari para peneliti dari Institut Mikrobiologi di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Guangdong dan institusi-institusi lainnya mengusulkan mekanisme intervensi potensial dengan bahan makanan yang diperkaya selenium untuk meringankan AD.Bahan makanan yang diperkaya selenium terkandung di banyak tumbuhan dan mikroorganisme, seperti sayuran Brassicaceae, ragi, dan jamur.Studi tersebut juga menunjukkan bahwa hidrolisis enzimatik dan pemrosesan fisik, seperti pengobatan termal, tekanan tinggi, dan gelombang mikro, merupakan sejumlah teknik utama untuk memodifikasi sifat dari diet selenium.Hasil studi itu telah dipublikasikan dalam jurnal Critical Review in Food Science and Nutrition.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Rusia uji vaksin Sputnik V untuk remaja 14-18 tahun
Indonesia
•
19 Feb 2021

China luncurkan roket pengangkut oksigen-metana cair Zhuque-2 untuk tiga satelit
Indonesia
•
10 Dec 2023

Studi di Australia dapati kril antarktika tolak makanan yang terkontaminasi mikroplastik
Indonesia
•
09 Oct 2025

China tingkatkan optimalisasi gabungan wahana antariksa kargo dan roket untuk suplai stasiun luar angkasa murah
Indonesia
•
16 Nov 2024


Berita Terbaru

Feature – Bayi panda raksasa Rio siap diperkenalkan ke publik mulai akhir Mei
Indonesia
•
24 May 2026

Kaya umbi-umbian, masyarakat Indonesia bisa nikmati mi non-terigu yang sehat
Indonesia
•
24 May 2026

Peneliti Indonesia kembangkan kapal listrik pengangkut sampah untuk kawasan mangrove
Indonesia
•
24 May 2026

Teknologi ‘Organic Rankine Cycle’ ubah panas buangan dari jadi energi listrik
Indonesia
•
24 May 2026
