PBB sebut dermaga bantuan terapung di Gaza kurang layak dibandingkan jalur darat

Bantuan kemanusiaan yang diterjunkan dari sebuah pesawat terlihat di langit Jalur Gaza pada 30 April 2024. (Xinhua/Abdul Rahman Salama)
Pengiriman bahan bakar ke Gaza pada dasarnya telah terhenti sejak militer Israel memulai serangan terhadap Rafah pada 6 Mei, dengan pengecualian yang sangat terbatas.
PBB (Xinhua) – Dermaga terapung yang baru saja selesai dibangun di lepas pantai Gaza untuk pengiriman bantuan dinilai kurang layak dibandingkan jalur darat, demikian disampaikan seorang juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (16/5)."Memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan di dalam maupun di seluruh Gaza tidak dapat dan tidak boleh bergantung pada dermaga terapung yang jauh dari tempat yang paling membutuhkan bantuan," kata Farhan Haq, wakil juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres."Jalur darat merupakan metode pengiriman bantuan yang paling layak, efektif, dan efisien, oleh karena itu kita perlu membuka semua titik perlintasan. Guna mencegah bencana kelaparan, kita harus menggunakan rute tercepat dan paling jelas untuk menjangkau masyarakat Gaza, dan untuk itu, saat ini kita membutuhkan akses melalui darat," ungkapnya.Dermaga tersebut, yang dibangun oleh militer Amerika Serikat (AS) bekerja sama dengan otoritas Israel, berhasil berlabuh pada Kamis, seperti yang diumumkan oleh Israel dan AS.Haq mengatakan badan dunia tersebut sedang merampungkan rencana operasional untuk memastikan bahwa pihaknya siap menangani bantuan begitu dermaga terapung itu berfungsi dengan baik, sekaligus memastikan keselamatan staf PBB."Kesadaran dan penerimaan masyarakat sangat penting untuk menjamin keselamatan dan keamanan operasi ini. Kami berterima kasih atas upaya Siprus, yang didukung oleh negara-negara anggota lainnya, untuk mempertahankan koridor maritim sebagai jalur tambahan untuk bantuan ke Gaza. Dan tentu saja, kami berterima kasih kepada AS atas semua upaya yang telah mereka lakukan dalam membangun dermaga terapung," ujarnya.Haq menyoroti kekurangan bahan bakar untuk pengiriman bantuan.Tidak peduli bagaimana bantuan datang, baik melalui laut atau darat, tanpa bahan bakar, bantuan tidak akan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, tuturnya.Pengiriman bahan bakar ke Gaza pada dasarnya telah terhenti sejak militer Israel memulai serangan terhadap Rafah pada 6 Mei, dengan pengecualian yang sangat terbatas, kata sang juru bicara.Perihal bantuan yang masuk ke Gaza, beberapa komoditas sudah masuk melalui pembukaan baru di Zikim. Namun Zikim berada di wilayah barat laut, sementara yang paling membutuhkan bantuan berada di wilayah selatan. Ada sejumlah bantuan terbatas yang masuk ke Gaza melalui Kerem Shalom, meski perlintasan tersebut masih belum memungkinkan secara logistik, ujar Haq. "Jadi intinya, hanya sedikit makanan yang bisa masuk dan soal bahan bakar, impor bahan bakar, untuk semua tujuan praktis, telah dihentikan. Kita sangat membutuhkan lebih banyak bahan bakar."Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Pejabat Saudi puji budaya Irak dalam pameran buku internasional
Indonesia
•
04 Oct 2021

WHO sebut lebih dari 22.500 orang di Gaza derita luka yang ubah hidup mereka
Indonesia
•
14 Sep 2024

Saudi dirikan kompleks bahasa internasional, promosikan Bahasa Arab dan Al-Qur'an
Indonesia
•
04 Sep 2020

Kekeringan berdampak pada 75 persen populasi dunia pada 2050
Indonesia
•
19 Jun 2022
Berita Terbaru

AS dan Kanada belum terkalahkan di cabor hoki es putri Olimpiade Musim Dingin 2026
Indonesia
•
13 Feb 2026

Rangkuman – Hari ke-4 Olimpiade Musim Dingin 2026: Norwegia sabet 3 medali emas, Italia juara seluncur cepat lintasan pendek estafet beregu campuran
Indonesia
•
13 Feb 2026

Feature – Tetap bugar di kala hujan dan banjir dengan pengobatan tradisional China
Indonesia
•
11 Feb 2026

Pumpunan – Hari ke-2 Olimpiade Musim Dingin 2026: Kecelakaan Lindsey Vonn, Sander Eitrem pecahkan rekor seluncur cepat Olimpiade
Indonesia
•
09 Feb 2026
