Feature – Tetap bugar di kala hujan dan banjir dengan pengobatan tradisional China

Foto yang diabadikan pada 23 Juli 2025 ini menampilkan aneka bahan herbal khas Indonesia di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Xinhua/Prabowo Destyan)

Sleman, Yogyakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Cuaca ekstrem, terutama curah hujan tinggi, diprediksi BMKG akan terus menyapu sebagian besar wilayah Indonesia hingga akhir Februari. Dampaknya, bencana seperti banjir turut mengancam kota besar seperti Jakarta hingga pelosok negeri.

Pertahanan tubuh menjadi faktor krusial untuk menjaga kesehatan di tengah kondisi anomali tersebut. Nyatanya, cuaca ekstrem bukanlah hal baru, melainkan sudah dialami manusia sejak berabad-abad lalu. Lantas, bagaimana pendekatan pengobatan tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM) ketika dihadapkan pada situasi tersebut?

Xinhua berbincang dengan pakar pengobatan Timur, Arief Aditama, pemilik Rumah Sehat Toms Hepi di Yogyakarta yang sudah malang melintang dalam praktik TCM selama lebih dari 20 tahun untuk mengulas hal tersebut.

Tubuh miniatur alam semesta

"Pertama, kita harus memahami dulu bagaimana tubuh bekerja. Menurut filosofi TCM yang berumur 2.000 tahun lebih, manusia adalah miniatur alam semesta, jadi semua yang terjadi di alam juga terjadi di dalam tubuh manusia," ungkap pria yang akrab dipanggil Suhu Tomy tersebut.

"Banjir yang menggenang ibaratnya tubuh lagi membengkak, sedangkan banjir bandang seperti halnya diare yang tengah dialami seseorang. Tanah longsor di dunia nyata diibaratkan seperti pergerakan organ di tubuh manusia seperti ambeien atau strok di mana pembuluh darah pecah, ibaratnya tanggul yang jebol. Angin puting beliung bagai vertigo, sedangkan badai seperti migrain," lanjut Tomy.

Menurut Tomy, dalam TCM terdapat patogen luar (eksternal) dan patogen dalam (internal), dan apa yang dibawa oleh hujan erat kaitannya dengan patogen luar seperti air, kelembapan, dan angin.

"Ketika musim hujan dan banjir berarti dominan dengan air yang terdiri dari setidaknya tiga patogen, pertama ada lembap yang kuat, kedua adanya dingin, ketiga adanya angin. Hujan membawa kelembapan tinggi sehingga kita sering merasa dingin. Dingin membuat linu, seperti rasa pegal pada sendi," ujar Tomy.

Dalam TCM, tubuh yang sehat adalah ketika ada keseimbangan, sedangkan penyakit muncul ketika ada ketidakseimbangan dalam tubuh. Pada musim hujan, cuaca ekstrem, dan banjir, tentunya tubuh banyak digempur oleh patogen-patogen eksternal tersebut.

"Sangat penting untuk menyelaraskan diri, dari perihal pola konsumsi makanan hingga aktivitas dan kegiatan yang dilakukan dalam kondisi tersebut. Singkatnya, kita berpotensi sakit jika melanggar hukum alam," jelas Tomy.

Selaras dengan alam

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menjaga kondisi tubuh di tengah situasi ekstrem musim hujan yang banyak didominasi air? Menurut Tomy, hal paling sederhana namun menentukan dan perlu diperhatikan adalah makanan dan minuman yang kita konsumsi.

"Pola makan (dan) minum harus selaras dengan alam. Dalam kondisi hujan dan banjir karena banyak unsur air maka makan (dan) minumlah dengan yang hangat, bukan sebaliknya. Buah juga jangan terlalu banyak karena buah kita tropis yang sifatnya lembap dan dingin, meski bisa juga dikombinasikan dengan gastronomi timur seperti rujak yang ada pedasnya. Makan apa pun sebaiknya ada rempahnya yang sifatnya hangat, seperti bawang, jahe, serai, ketumbar, atau cabe. Perbanyaklah protein hewani karena sifatnya hangat dan mengisi energi," ungkap Tomy.

Selain makanan, menurut Tomy hal selanjutnya yang mutlak diperhatikan adalah cara berolahraga.

"Olahraga sebaiknya dipilih yang ringan hingga sedang dan tidak terlalu menghabiskan tenaga atau banyak menguras keringat, karena jika terlalu lelah justru akan menghabiskan energi dan jika energi drop maka justru rentan untuk patogen luar masuk ke dalam tubuh."

Terlalu bersemangat untuk berolahraga namun tidak menyesuaikan kondisi tubuh nyatanya tidak akan efektif, meski didasari oleh niat baik.

"Contoh saja, jika kita terlalu memaksa berolahraga dan banyak berkeringat namun setelah itu malah drop kena paparan angin ketika pori-pori kulit terbuka, maka justru kurang baik," lanjutnya.

Pikiran juga menjadi fokus utama karena dalam TCM kesehatan adalah tentang keseimbangan. Menurut Tomy, cuaca sangat memengaruhi pikiran dan emosi, seperti rasa marah atau sedih yang kerap muncul mendadak. Hal tersebut harus diregulasi dengan baik karena sistem emosi berpengaruh terhadap organ tubuh.

"Ketika terkena musibah seperti kebanjiran tentu kita jadi sedih, namun diusahakan bagaimana caranya kita tidak terlalu lama bersedih sehingga justru menurunkan sistem imun tubuh dan malah memudahkan patogen luar untuk semakin menyerang tubuh kita."

Kembalikan keseimbangan tubuh

Jika tubuh telanjur mengalami gangguan, lantas bagaimanakah cara yang efektif untuk mengembalikannya ke kondisi prima?

"Kuncinya yang paling umum adalah kita harus paham dulu kondisi kita, apakah sakit yang kita derita itu akibat patogen internal atau eksternal, jadi perlu dianalisa," tutur Tomy.

Untuk mengatasi penyakit khas musim hujan yang disebabkan oleh patogen luar, tentu dapat dilakukan dengan cara-cara yang efektif mengusir patogen tersebut. Tomy menerangkan beberapa pendekatan sederhana yang bisa diterapkan masyarakat.

"Dalam TCM konsepnya adalah Yin Yang, selaras yang berpasang-pasangan atau bertolak belakang. Jika tubuh kita telah didominasi dingin maka tentu kita butuh memanaskan tubuh untuk menyeimbangkannya," jelas Tomy.

"Dalam TCM, kerokan atau gua sha banyak dilakukan untuk mengusir udara dingin, begitu juga dengan terapi kop. Selain itu, bisa juga dengan mengonsumsi minuman herbal, yang bahkan dapat disertakan ke dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Jika kedinginan maka kita butuh sesuatu yang hangat atau pedas. Contohnya kita bisa konsumsi soto rempah, maka dengan berkeringat itu dapat mengusir angin dingin."

Lebih lanjut, karena konsep pengobatan TCM adalah mengembalikan tubuh ke dalam keseimbangan, Tomy mengingatkan bahwa keseimbangan patogen internal seperti emosi pun tidak boleh ditinggalkan.

"Yang membuat sakit adalah ketika hal-hal tersebut berlebihan. Emosi seperti marah atau sedih itu wajar, namun kalau setiap hari marah atau selalu sedih itu tentu tidaklah seimbang. Maka bisa diseimbangkan dengan cara meditasi, menenangkan diri, beribadah, atau yang lain-lain," tutup Tomy.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait