Fokus Berita – Veto berdarah Washington untuk Gaza

Orang-orang memeriksa kerusakan pascaserangan udara Israel di kamp pengungsi Nuseirat, Jalur Gaza tengah, pada 20 Februari 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Penggunaan hak veto berulang kali oleh Amerika Serikat terhadap draf resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang menuntut gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza, menggarisbawahi ketidakpedulian negara tersebut pada situasi kemanusiaan yang parah di Gaza.
Beijing, China (Xinhua) – Amerika Serikat (AS) pada Selasa (20/2) memveto draf resolusi Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menuntut gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza. Ini merupakan kali keempat AS melakukan hal itu sejak meletusnya konflik tersebut. Meski demikian, langkah AS bukanlah hal yang mengejutkan.Hal yang tidak mengejutkan lainnya adalah meningkatnya rasa frustrasi dan ketidakpuasan di dalam komunitas internasional perihal penghalangan yang terus dilakukan oleh Washington. Amerika tidak diragukan lagi menghalangi upaya perdamaian di Timur Tengah.Penggunaan hak veto berulang kali tersebut menggarisbawahi ketidakpedulian AS terhadap situasi kemanusiaan yang parah di Gaza. Penolakannya dalam mendukung sebuah resolusi yang bertujuan untuk meringankan penderitaan warga sipil yang terjebak dalam konflik tersebut kian mengikis kredibilitas AS sebagai mediator konflik Israel-Palestina.Sikap AS yang bersikeras membiarkan konflik itu terus berlangsung memperlihatkan perbedaan yang mencolok antara retorika Amerika dan tindakannya, mengungkap kemunafikan dan standar ganda dalam nilai-nilai yang dianutnya.Selain Inggris, yang memilih abstain, 13 negara anggota DK PBB lainnya memutuskan untuk mendukung draf resolusi yang diajukan oleh Aljazair mewakili negara-negara Arab tersebut. Resolusi itu menuntut gencatan senjata segera di Jalur Gaza, pembebasan semua sandera secepatnya, jaminan akses kemanusiaan, dan penolakan terhadap relokasi paksa populasi sipil Palestina.Hasil pemungutan suara itu menunjukkan bahwa bukan Dewan Keamanan tidak memiliki konsensus yang kuat, melainkan penggunaan hak veto oleh AS-lah yang menghalangi langkah dewan.Amar Bendjama, utusan Aljazair untuk PBB, secara tegas menyatakan bahwa penolakan terhadap draf resolusi itu "menyiratkan dukungan atas kekerasan brutal dan hukuman kolektif yang dijatuhkan kepada" masyarakat di Gaza.Dengan kembali menolak resolusi itu, Washington memikul tanggung jawab yang berat dalam memperparah krisis di Gaza dan berkontribusi terhadap destabilisasi yang lebih luas di Timur Tengah.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Sekjen PBB kecam rencana perluasan permukiman Israel di Tepi Barat
Indonesia
•
30 Jun 2023

Kelompok Houthi Yaman klaim serangan terhadap 3 kapal AS dan Israel
Indonesia
•
11 Jul 2024

Wawancara: PM Pakistan sebut Pakistan dan China miliki takdir bersama
Indonesia
•
04 Nov 2022

Mantan PM Malaysia Najib minta pengampunan kerajaan dari dalam penjara
Indonesia
•
05 Sep 2022
Berita Terbaru

Rusia terima Ukraina yang netral dan bersahabat sebagai tetangga di masa depan
Indonesia
•
06 Feb 2026

Perjanjian pengurangan senjata nuklir Rusia dan AS berakhir, perdamaian dunia terancam
Indonesia
•
06 Feb 2026

Rudal Khorramshahr-4 siap luncur di situs bawah tanah Iran jelang pembicaraan dengan AS
Indonesia
•
06 Feb 2026

Perundingan Rusia-Ukraina di UEA hasilkan kesepakatan tukar tawanan, isu utama belum tuntas
Indonesia
•
06 Feb 2026
