
Regulasi ketat terhadap AI berpotensi hambat pertumbuhan ekonomi Australia

Sejumlah balon udara terbang di atas Danau Burley Griffin dalam acara tahunan Canberra Balloon Spectacular di Canberra, Australia, pada 18 Maret 2025. (Xinhua/Chu Chen)
Pengaturan ketat terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan menghambat pertumbuhan ekonomi Australia.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah laporan yang dirilis oleh badan penasihat independen pemerintah Australia menemukan bahwa pengaturan ketat terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan menghambat pertumbuhan ekonomi negara tersebut.Diterbitkan pada Selasa (5/8) malam waktu setempat oleh Komisi Produktivitas (Productivity Commission/PC) Australia, badan penasihat independen pemerintah negara itu di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan, laporan tersebut menemukan bahwa AI kemungkinan akan meningkatkan output ekonomi negara itu sebesar lebih dari 116 miliar dolar Australia selama 10 tahun mendatang.*1 dolar Australia = 10.587 rupiahPemerintah federal harus memeriksa dan melengkapi kekurangan dalam regulasi saat ini yang terekspos oleh AI, tetapi regulasi spesifik untuk AI seharusnya hanya dianggap sebagai "pilihan terakhir," menurut laporan tersebut."Menambahkan regulasi yang mencakup perekonomian secara keseluruhan dan secara spesifik menyasar AI dapat membuat Australia tertinggal, membatasi peluang pertumbuhan yang sangat besar," ujar Komisaris PC Stephen King dalam sebuah pernyataan.Pemerintah federal Partai Buruh yang dipimpin Perdana Menteri Australia Anthony Albanese saat ini sedang mempertimbangkan respons legislatif terhadap munculnya teknologi AI, termasuk kemungkinan penyusunan Undang-Undang AI yang akan mewajibkan konten-konten yang dihasilkan AI untuk diberi label serta menerapkan perlindungan wajib pada AI yang dianggap berisiko tinggi.Laporan PC itu, yang ditugaskan oleh Menteri Keuangan Australia Jim Chalmers, dirilis menjelang pertemuan pemerintah dengan para pemimpin bisnis, serikat pekerja, dan ekonom untuk diskusi reformasi ekonomi di Gedung Parlemen di Canberra dari 19-21 Agustus.Menurut agenda yang dirilis Chalmers pada Jumat (1/8) pekan lalu, pertemuan pada hari kedua akan difokuskan pada peningkatan produktivitas Australia.Laporan PC itu menemukan bahwa AI dapat mendorong peningkatan 4,3 persen dalam produktivitas tenaga kerja selama 10 tahun mendatang.Selain itu, laporan tersebut menyebutkan bahwa memberikan individu dan bisnis akses yang lebih besar ke data yang berkaitan dengan mereka akan meningkatkan persaingan dan inovasi, memberikan keuntungan produktivitas senilai hingga 10 miliar dolar Australia per tahun.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Wakil PM China serukan pendalaman kerja sama energi China-Rusia
Indonesia
•
30 Nov 2022

IMF: PDB global berpotensi turun 4,5 persen dalam skenario "de-risking" ekstrem
Indonesia
•
12 Jan 2024

Pengusaha F & B Bogor bangun jejaring bisnis di acara ‘kopdar’ KPMI
Indonesia
•
14 Jan 2024

Pariwisata global pada 2024 hampir pulih ke tingkat prapandemi
Indonesia
•
23 Jan 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping dorong kerja sama Global South
Indonesia
•
12 Sep 2026

Harga minyak WTI tembus 100 dolar AS per barel, konflik Timur Tengah Memanas
Indonesia
•
12 Sep 2026

Feature – Warga Xinglong minum lebih dari 200 cangkir kopi setahun saat industri kopi China tembus 928 triliun rupiah
Indonesia
•
12 Sep 2026

El Nino ancam inflasi Indonesia, harga beras hingga jagung diprediksi melonjak
Indonesia
•
10 Sep 2026
