
Pengakuan kedaulatan Selat Hormuz jadi prasyarat Iran untuk berunding kembali dengan AS

Foto yang diabadikan pada 12 April 2026 ini menunjukkan suasana jalan di Islamabad, Pakistan. (Xinhua/Wang Shen)
Blokade angkatan laut AS yang terus berlanjut di Laut Arab dan Teluk Oman pasca-gencatan senjata semakin menguatkan pandangan Teheran bahwa negosiasi dengan Washington tidak dapat dipercaya.
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Iran tidak akan berpartisipasi dalam perundingan kedua dengan Amerika Serikat (AS) kecuali lima prasyarat yang ditujukan untuk membangun kepercayaan dipenuhi, demikian dilaporkan kantor berita semiresmi Iran, Fars, pada Selasa (12/5) dengan mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Sumber itu menggambarkan syarat-syarat tersebut sebagai "jaminan minimum untuk membangun kepercayaan" yang diperlukan sebelum negosiasi baru dengan Washington dapat dimulai.
Menurut sumber, syarat itu meliputi penghentian permusuhan di semua front, khususnya di Lebanon; pencabutan sanksi terhadap Iran; pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan; kompensasi untuk Iran atas kerusakan akibat perang; serta pengakuan terhadap hak kedaulatan Iran atas Selat Hormuz. Sumber mengatakan tuntutan tersebut telah disampaikan kepada AS sebagai tanggapan atas proposal 14 poin dari AS.
Sumber juga mengatakan bahwa Iran telah menginformasikan kepada Pakistan, yang menjadi mediator perundingan, bahwa blokade angkatan laut AS yang terus berlanjut di Laut Arab dan Teluk Oman pasca-gencatan senjata semakin menguatkan pandangan Teheran bahwa negosiasi dengan Washington tidak dapat dipercaya.
Menurut sumber, syarat-syarat itu semata-mata dimaksudkan untuk membangun tingkat kepercayaan minimum yang diperlukan guna melanjutkan dialog.
Iran pada Ahad (10/5) telah mengirimkan tanggapannya kepada mediator Pakistan terkait draf proposal terbaru dari AS tentang pengakhiran konflik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin (11/5) mengatakan bahwa proposal Teheran hanya bertujuan menjamin hak-hak "sah" rakyat Iran.
Iran dan AS menyepakati gencatan senjata pada 8 April setelah 40 hari pertempuran yang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Teheran serta kota-kota Iran lainnya pada 28 Februari. Delegasi Iran dan AS kemudian menggelar putaran perundingan di Islamabad pada 11 dan 12 April, tetapi gagal mencapai kesepakatan.
Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak telah beberapa kali saling bertukar draf proposal melalui Pakistan sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Menlu Afsel: Tak satu pun anggota G20 punya hak unilateral untuk mengecualikan Afsel
Indonesia
•
05 Dec 2025

Aktivis AS berencana gelar aksi protes kedua, tuntut agen federal hengkang dari Minnesota
Indonesia
•
29 Jan 2026

Rudal Houthi hantam kapal komersial milik AS di dekat Yaman
Indonesia
•
16 Jan 2024

Fokus Berita – PBB sebut krisis kemanusiaan memburuk di Lebanon, Gaza, dan Tepi Barat seiring berlanjutnya konflik Timur Tengah
Indonesia
•
03 Apr 2026


Berita Terbaru

AS cabut izin penjualan minyak Iran, sanksi kembali diperketat usai serangan di Selat Hormuz
Indonesia
•
08 Jul 2026

10 hari gencatan senjata di Lebanon, 65 tewas dalam 230 pelanggaran oleh Israel
Indonesia
•
08 Jul 2026

Tekanan AS meningkat, NATO andalkan dana swasta Rp3.903 triliun untuk perkuat militer
Indonesia
•
08 Jul 2026

Empat tahun menuju 2030, PBB sebut hanya 36 persen target SDG yang masih sesuai jalur
Indonesia
•
08 Jul 2026
