
Palestina sambut baik dukungan PBB terhadap Deklarasi New York tentang solusi dua negara

Warga Palestina yang mengungsi dari Jalur Gaza utara terlihat saat melintasi Lembah Gaza di Jalur Gaza tengah pada 31 Agustus 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Pengadopsian Deklarasi New York merupakan langkah penting menuju berakhirnya pendudukan Israel dan mewujudkan negara Palestina yang merdeka berdasarkan perjanjian perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Ramallah, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Palestina pada Jumat (12/9) menyambut baik voting Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk "mengadopsi dan menyetujui" Deklarasi New York, menggambarkannya sebagai hasil utama konferensi PBB tentang penyelesaian damai atas isu Palestina dan implementasi solusi dua negara.Dalam pernyataan pers, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Palestina mengatakan bahwa 142 negara memberikan suara untuk mendukung resolusi tersebut, sementara 12 negara abstain, dan 10 negara tidak setuju.Kemenlu Palestina memuji sikap negara-negara yang mensponsori, mendukung, dan memberikan suara untuk mendukung resolusi tersebut.Kemenlu Palestina juga mendesak negara-negara anggota PBB untuk melaksanakan hasil konferensi internasional tersebut terkait solusi dua negara dan menekan Israel agar menghentikan operasi militer, menyetujui gencatan senjata, mengakhiri penggunaan kelaparan "sebagai senjata perang," mencegah pengungsian paksa, serta membebaskan tahanan dan sandera.Dalam pernyataan pers di platform media sosial X, Wakil Presiden Palestina Hussein al-Sheikh mengatakan keputusan Majelis Umum PBB mencerminkan keinginan masyarakat internasional dalam mendukung hak-hak rakyat Palestina.Dirinya menekankan bahwa pengadopsian tersebut merupakan langkah penting menuju berakhirnya "pendudukan Israel" dan mewujudkan negara Palestina yang merdeka berdasarkan perjanjian perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.Dukungan PBB tersebut diberikan beberapa hari setelah Israel melancarkan serangan mendadak di Doha pada Selasa (9/9) untuk membunuh Khalil al-Hayya, seorang pemimpin senior di biro politik Hamas, dan para pemimpin Hamas lainnya yang bertemu untuk membahas proposal gencatan senjata Gaza yang diajukan oleh Amerika Serikat.Hamas kemudian melaporkan bahwa al-Hayya selamat dari serangan tersebut. Namun, serangan itu menewaskan putranya dan salah satu ajudan utamanya.Pada Jumat, Hamas mengatakan al-Hayya melaksanakan salat jenazah untuk putranya dan korban lain yang tewas dalam apa yang digambarkannya sebagai "percobaan pembunuhan berbahaya" di Doha.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tentara Israel lancarkan operasi militer skala besar di Hebron, Tepi Barat
Indonesia
•
19 Jan 2026

DK PBB adopsi resolusi, tuntut gencatan senjata di Gaza selama Ramadhan
Indonesia
•
27 Mar 2024

China tolak keras persaingan senjata di luar angkasa
Indonesia
•
15 Dec 2023

Pemerintah Arab Saudi renovasi situs bersejarah Islam
Indonesia
•
12 Apr 2021


Berita Terbaru

Iran sebut kapal perang Eropa yang lintasi Selat Hormuz dianggap sebagai sasaran yang sah
Indonesia
•
29 Jul 2026

Israel perluas operasi militer di Tepi Barat, tambah permukiman ilegal Yahudi
Indonesia
•
29 Jul 2026

Ratusan ribu warga Afrika jadi korban perdagangan manusia, sindikat raup puluhan triliun rupiah per tahun
Indonesia
•
29 Jul 2026

Sedikitnya 15 anggota pasukan paramiliter Irak tewas akibat serangan AS-Arab Saudi
Indonesia
•
29 Jul 2026
