
Penelitian sebut oksidasi mikroba signifikan kurangi emisi metana di lautan

Foto dari udara yang diabadikan pada 18 April 2021 ini memperlihatkan pemandangan garis pantai di Teluk Aoshan di Qingdao, Provinsi Shandong, China Timur. (Xinhua/Liang Xiaopeng)
Peran oksidasi mikroba dalam pembersihan metana lebih penting dari yang diperkirakan sebelumnya, karena hal itu secara signifikan mengurangi emisi metana global dari perairan dangkal.
Beijing, China Xinhua) – Sebuah tim peneliti yang terdiri dari para ilmuwan China dan luar negeri telah menemukan bahwa hampir separuh dari metana di perairan laut dangkal yang kaya nutrisi dikonsumsi oleh mikroba sebelum pelepasan emisinya ke atmosfer."Penemuan ini menyiratkan bahwa peran oksidasi mikroba dalam pembersihan metana lebih penting dari yang kita kira sebelumnya, karena hal itu secara signifikan mengurangi emisi metana global dari perairan dangkal," ujar Zhuang Guangchao, seorang ahli kimia laut dari Universitas Kelautan China sekaligus sebagai kepala tim penelitian tersebut.Metana merupakan gas rumah kaca terpenting kedua, dan potensi pemanasan globalnya lebih dari 20 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida, oleh karena itu, mengurangi emisi metana global penting untuk mencapai netralitas karbon, jelas Zhuang."Lautan merupakan sumber metana atmosfer dan perairan pantai yang dangkal mendominasi emisi metana lautan global, sedangkan oksidasi mikroba bertindak sebagai biofilter yang dapat mengurangi emisi tersebut," paparnya.Dalam penelitian ini, yang belum lama ini diterbitkan di jurnal Nature Communications, para peneliti menggabungkan serangkaian analisis geokimia dan mikroba serta model pembelajaran mesin untuk mempelajari siklus metana di lautan. Mereka mengukur tingkat oksidasi metana di perairan laut dangkal global dan melakukan estimasi peran mereka dalam emisi metana lautan."Ini menjadi perhitungan pertama dari tingkat oksidasi metana di perairan dangkal pada skala global, yang membantu kita lebih memahami siklus gas rumah kaca yang penting ini," ungkap Zhuang, seraya menambahkan bahwa penelitian ini juga sangat penting dalam membantu mengurangi emisi metana lautan dan mencapai netralitas karbon.Tim peneliti itu terdiri dari para ilmuwan dari Universitas Kelautan China, Universitas Xiamen, University College London, Montana State University, dan University of Georgia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi baru suguhkan wawasan tentang evolusi manusia purba di Asia Timur
Indonesia
•
07 Apr 2025

Perusahaan antariksa China pamerkan teknologi komunikasi ‘mobile-to-satellite’
Indonesia
•
15 Feb 2025

Tim peneliti Australia identifikasi protein kunci dalam penyimpanan lemak seluler
Indonesia
•
01 Sep 2025

Sistem saluran air berusia 4.000 tahun ditemukan di China tengah
Indonesia
•
10 Apr 2026


Berita Terbaru

ZTE dan XLSMART luncurkan pusat inovasi di Jakarta untuk dukung pengembangan 5G-A dan AI di Indonesia
Indonesia
•
28 Apr 2026

Deforestasi Amazon di Brasil turun 17 persen pada Q1 2026
Indonesia
•
29 Apr 2026

Ekosistem mangrove efektif urai limbah budi daya laut
Indonesia
•
28 Apr 2026

Ilmuwan China temukan 2 mineral Bulan baru
Indonesia
•
25 Apr 2026
