
Peneliti Spanyol gunakan ‘drone’ dan AI untuk identifikasi gandum yang tahan terhadap perubahan iklim

Foto yang diabadikan pada 29 Juni 2020 ini menunjukkan Fakultas Biologi Universitas Barcelona di Barcelona, Spanyol. (Xinhua/Ismael Peracaula)
Pertumbuhan awal yang kuat dengan pematangan lebih awal merupakan faktor kunci dalam mencapai hasil panen yang lebih konsisten di lingkungan yang berubah-ubah, membantu gandum menghadapi kekeringan dan suhu tinggi dengan lebih baik.
Barcelona, Spanyol (Xinhua/Indonesia Window) – Peneliti Spanyol dari Universitas Barcelona (UB) menggunakan drone, kamera udara dan darat serta sensor, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mengembangkan cara inovatif dalam mengidentifikasi gandum yang tahan terhadap perubahan iklim tanpa mengurangi hasil panen.
Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Plant Phenomics pada April. Para akademisi UB melakukan penelitian ini bersama pusat penelitian internasional Agrotecnio.
Studi ini merespons meningkatnya minat industri pertanian dalam memastikan hasil panen yang konsisten di lingkungan yang berubah-ubah, kata tim peneliti yang berbasis di fakultas Biologi UB itu kepada Xinhua.
"Seorang teknisi saja dapat keluar dengan drone, memetakan semuanya, dan para analis di kantor dapat menganalisis perbedaan berbagai tanaman dan mendapatkan perkiraan yang akurat soal apakah varietas ini akan menghasilkan lebih banyak atau lebih tahan terhadap situasi dengan variabilitas iklim," kata Jara Jauregui, salah satu peneliti sekaligus penulis studi tersebut.
Menggunakan data tanaman yang dikumpulkan, tim peneliti tersebut melatih model AI untuk memprediksi hasil panen sekaligus stabilitas produksi dari berbagai varietas dengan tingkat akurasi tinggi.
Tim tersebut menganalisis 64 varietas gandum durum yang ditanam dalam dua kondisi Mediterania yang berbeda, yakni irigasi dan tadah hujan.
Mereka menyimpulkan bahwa pertumbuhan awal yang kuat dengan pematangan lebih awal merupakan faktor kunci dalam mencapai hasil panen yang lebih konsisten di lingkungan yang berubah-ubah, membantu gandum menghadapi kekeringan dan suhu tinggi dengan lebih baik.
Para peneliti mengatakan bahwa menggunakan teknologi ini tidak hanya mempercepat seleksi tanaman, tetapi juga mengurangi kebutuhan manusia untuk mengevaluasi tanaman secara langsung.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim Cook sebut China rantai pasokan paling penting bagi Apple
Indonesia
•
21 Mar 2024

Permintaan meningkat, perusahaan bioteknologi berlomba kembangkan galur baru kedelai berkualitas tinggi
Indonesia
•
17 Sep 2025

Feature – Ekspedisi China ungkap fenomena bukaan es di Antarktika
Indonesia
•
30 Jan 2026

Ilmuwan temukan gen gandum liar yang bisa hasilkan biji lebih besar dan bergizi
Indonesia
•
03 Aug 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
