
Peneliti China ungkap informasi genetik kukang kerdil di dunia

Seorang pengunjung mengabadikan foto seekor kukang di Kebun Binatang Yunnan di Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan, China barat daya, pada 17 November 2017. (Xinhua/Lin Yiguang)
Temuan-temuan dalam penelitian genetika dan evolusi adaptif kukang kerdil yang terancam punah di dunia juga memberikan informasi berguna untuk studi-studi selanjutnya mengenai gangguan manusia yang berkaitan dengan metabolisme abnormal, perkembangan otot rangka, dan ritme sirkadian.
Beijing, China (Xinhua) – Sejumlah pakar China belum lama ini mengungkap adaptasi evolusioner dan sejarah demografi kukang kerdil (pygmy loris), menurut Institut Zoologi Kunming di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Kukang adalah kelompok primata yang terancam punah secara global yang menunjukkan banyak ciri-ciri fisiologis dan perilaku yang tidak biasa, termasuk tingkat metabolisme yang rendah, gerakan yang lambat, dan hibernasi. Meskipun mereka merupakan bagian penting dalam filogeni primata, pengetahuan masyarakat tentang kelompok ini masih sangat terbatas.Filogeni adalah hubungan di antara kelompok-kelompok organisme yang dikaitkan dengan proses evolusi yang dianggap mendasarinya.Para peneliti dari institut tersebut mengumpulkan urutan genom tingkat kromosom dari kukang kerdil dan mengurutkan ulang seluruh genom dari 50 kukang kerdil dan enam kukang Benggala, menurut makalah yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.Mereka menemukan bahwa banyak famili gen yang terlibat dalam detoksifikasi mengalami perluasan secara spesifik pada kukang kerdil, termasuk famili gen GSTA, dengan banyak salinan turunan baru yang secara spesifik bekerja di organ hati, menurut makalah itu.Hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa banyak gen menunjukkan konvergensi evolusioner antara kukang kerdil dan koala, termasuk PITRM1. Penurunan signifikan dalam aktivitas enzim PITRM1 pada kedua spesies ini kemungkinan berkontribusi terhadap tingkat metabolisme rendah yang menjadi karakteristik mereka.Analisis genom terhadap populasi ini mengungkap bahwa dua spesies kukang yang masih dapat ditemukan, yaitu kukang kerdil dan kukang Benggala, yang hidup berdampingan di habitat yang sama, menunjukkan hubungan terbalik dalam hal demografi selama satu juta tahun terakhir, menyiratkan persaingan antarspesies yang kuat pascaspesiasi.Temuan-temuan tersebut dan informasi genetika kukang kerdil dapat memperdalam pemahaman masyarakat tentang evolusi adaptif spesies ini, serta dapat pula memberikan informasi berguna untuk studi-studi selanjutnya mengenai gangguan manusia yang berkaitan dengan metabolisme abnormal, perkembangan otot rangka, dan ritme sirkadian (proses internal dan alami yang mengatur siklus tidur-bangun yang diulangi kira-kira setiap 24 jam), kata para peneliti.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China akan lakukan eksperimen tikus di stasiun luar angkasa
Indonesia
•
01 Nov 2025

Model penalaran matematika AI Deepseek pelopori penalaran dengan verifikasi mandiri
Indonesia
•
29 Nov 2025

China capai kemajuan signifikan dalam pengendalian polutan organik persisten
Indonesia
•
19 May 2024

Koridor energi bersih terbesar di dunia catatkan kenaikan ‘output’ listrik pada 2023
Indonesia
•
15 Feb 2024


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
