
Penelitian ungkap perubahan penggunaan lahan dan tren ekologis di cekungan Sungai Tarim China

Foto yang diabadikan pada 26 Oktober 2024 ini menunjukkan pemandangan musim gugur di objek wisata Huludao (Pulau Labu) di wilayah Yuli, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut. (Xinhua/Chen Shuo)
Pendorong utama perbaikan ekologis di Cekungan Sungai Tarim adalah konversi lahan tandus menjadi padang rumput dan hutan, yang meningkatkan layanan ekosistem seperti konservasi air, retensi tanah, dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Urumqi, Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, China Barat Laut (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah penelitian terbaru mengungkap bagaimana perubahan penggunaan lahan selama beberapa dekade secara signifikan membentuk kondisi ekologis di Cekungan Sungai Tarim, yang merupakan cekungan sungai pedalaman terbesar di China.Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Geography and Sustainability ini dipimpin oleh tim peneliti dari Institut Ekologi dan Geografi Xinjiang di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Menggunakan data penginderaan jauh, meteorologi, dan sosioekonomi dari berbagai sumber, tim peneliti menganalisis transisi penggunaan lahan dan tutupan lahan selama 30 tahun terakhir. Mereka juga memproyeksikan pola lahan dan hasil ekologis di masa depan.Para peneliti menemukan perubahan signifikan dalam penggunaan lahan pada tahun 1992 hingga 2020. Lahan pertanian meluas sekitar 18.851 kilometer persegi, sementara padang rumput dan hutan masing-masing meningkat sekitar 10.235 dan 1.015 kilometer persegi. Sebaliknya, lahan tandus berkurang sekitar 20.597 kilometer persegi. Indeks kualitas ekologis meningkat dari 0,1196 menjadi 0,1248, terutama di bagian hulu dan tengah cekungan sungai.Selain itu, para peneliti menciptakan empat skenario pengembangan lahan, yakni Pengembangan Alami, Konservasi Lahan Pertanian, Perlindungan Ekologis, dan Perluasan Perkotaan, untuk menyimulasikan tren di masa depan. Dalam skenario Perlindungan Ekologis, pada 2050, padang rumput, hutan, dan badan air diproyeksikan meluas masing-masing sekitar 20.375, 2.635, dan 586 kilometer persegi, yang akan menghasilkan perbaikan ekologis yang signifikan.Menurut penelitian tersebut, di seluruh skenario, pendorong utama perbaikan ekologis adalah konversi lahan tandus menjadi padang rumput dan hutan, yang meningkatkan layanan ekosistem seperti konservasi air, retensi tanah, dan pelestarian keanekaragaman hayati.Menurut tim peneliti, penelitian ini memberikan wawasan berharga sekaligus landasan ilmiah untuk mempromosikan pembangunan sosioekonomi yang berkelanjutan dan konservasi ekologis di daerah tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pakar sebut cetak biru tata kelola global AI usulan China harus ditindaklanjuti
Indonesia
•
04 Nov 2023

Aliansi konservasi macan tutul salju didirikan di Qinghai, China
Indonesia
•
25 Oct 2023

Studi ungkap hubungan perkembangan ginjal dan rangka tubuh, berpotensi tingkatkan penanganan cacat bawaan
Indonesia
•
29 Jun 2026

Flu burung ancam koloni penguin di Afrika Selatan
Indonesia
•
19 Sep 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
