Pemerintah Indonesia tegaskan tak akan tinggalkan industri migas

Pemerintah Indonesia tegaskan tak akan tinggalkan industri migas
Fasilitas pengeboran minyak dan gas bumi. (Pertamina)

Jakarta (Indonesia Window) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan tidak akan meninggalkan industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di tengah tren dunia yang terus mengembangkan energi terbarukan.

“Industri hulu migas, tidak akan serta merta ditinggalkan karena industri ini juga menjadi salah satu pilar ekonomi Indonesia,” kata Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam the 2nd International Convention and Indonesian Upstream Oil and Gas 2021 (IOG) di Badung, Bali, Senin.

Arifin menjelaskan Indonesia yang merupakan salah satu negara pendukung karbon rendah berkomitmen untuk mencapai netralitas karbon pada 2060 atau lebih cepat, juga sedang mengusahakan peningkatan pengembangan dan penggunaan energi terbarukan.

Bahkan melalui beberapa kebijakan, Pemerintah Indonesia sedang mengusahakan lompatan perubahan.

Pada masa transisi energi ini terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain masalah reliability (keandalan) energi baru dan terbarukan yang memerlukan teknologi untuk menjaga intermittency (naik dan turun).

Menurut Arifin, peranan industri hulu migas yang rendah karbon diharapkan bisa menjadi energi pada masa transisi. Industri hulu migas yang rendah karbon merupakan visi dari industri bahan bakar fosil dalam era transisi di masa mendatang.

“Kita melihat penggunaan kapasitas nasional di sektor hulu migas cukup besar, baik dari sisi persentase maupun nilainya. Sebagai contoh, pada tahun 2020 penggunaan kapasitas nasional sebesar 57 persen dengan nilai pengadaan sekitar 2,54 miliar dolar AS,” katanya.

Studi Universitas Indonesia pada 2003-2017 menunjukkan dampak usaha hulu migas terus meningkat.

Industri hulu migas yang pada mulanya dirancang untuk menghasilkan penerimaan negara secara maksimal, kemudian dikembangkan menjadi salah satu mesin penggerak kegiatan penunjangnya, seperti perbankan, perhotelan dan sebagainya.

Arifin mengungkapkan dalam perhitungan umum setiap investasi sebesar satu dolar AS menghasilkan dampak senilai 1,6 dolar AS yang dapat dinikmati oleh industri penunjangnya.

Selain memberikan dampak langsung, industri hulu migas, terutama gas alam juga akan menjadi penyokong transisi energi di Indonesia.

Pemerintah Indonesia akan mengembangkan gas untuk menggantikan energi batu bara yang lebih banyak menghasilkan karbon dan meningkatkan konsumsi gas alam secara signifikan di masa depan.

“Lapangan-lapangan migas tetap perlu dikembangkan. Potensi yang ada juga harus digali untuk menjamin ketersediaan energi di masa depan. Bahkan potensi lapangan-lapangan migas non konvensional juga harus digali, demi memenuhi kebutuhan masa depan,” tutur Menteri ESDM.

Perhitungan Kementerian ESDM menunjukkan cadangan gas alam di Indonesia mencapai 62,4 triliun kaki kubik dengan cadangan terbukti sebanyak 43,6 triliun kaki kubik.

Gas alam dipilih sebagai pendukung transisi energi karena mudah didistribusikan dan disimpan, serta rendah karbon.

Menurut data the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), badan PBB untuk menilai ilmu terkait perubahan iklim, gas alam hanya menghasilkan 469 gram karbon dioksida per kilowatt jam (kWh).

Angka emisi itu lebih rendah dibandingkan batu bara yang mencapai 1.001 gram karbon dioksida per kWh dan minyak bumi sebesar 840 gram karbon dioksida per kWh.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here