Kekerasan di Afrika Tengah picu kekurangan gizi pada anak

Kekerasan di Afrika Tengah picu kekurangan gizi pada anak
Setidaknya 24.000 anak balita di 14 dari 35 distrik di Republik Afrika Tengah berisiko mengalami malnutrisi akut yang parah menyusul lonjakan kekerasan baru-baru ini di seluruh wilayah negara ini. (Rapheal Nathaniel from Pixabay)

Jakarta (Indonesia Window) – Setidaknya 24.000 anak balita di 14 dari 35 distrik di Republik Afrika Tengah berisiko mengalami malnutrisi akut yang parah menyusul lonjakan kekerasan baru-baru ini di seluruh wilayah negara ini, menurut siaran pers UNICEF (Dana Darurat Anak Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan Program Pangan Dunia (WFP) pada Jumat (12/3).

Saat ini 14 distrik berada pada status waspada terhadap krisis gizi buruk pada anak.

Kedua badan PBB tersebut juga mencatat bahwa kekerasan dan ketidakamanan memperburuk pengungsian penduduk, menghambat akses bantuan kemanusiaan dan menyebabkan harga pangan naik.

Hal tersebut menambah dampak negatif pandemik COVID-19 terhadap ketahanan gizi anak-anak di Afrika Tengah.

Tahun ini, setidaknya 62.000 anak balita diperkirakan menderita kekurangan gizi akut yang parah, meningkat 25 persen dari tahun 2020.

“Situasinya sangat memprihatinkan,” kata Perwakilan UNICEF di Republik Afrika Tengah, Fran Equiza.

“Tanpa akses mendesak ke perawatan yang mereka butuhkan, anak-anak yang kekurangan gizi sangat berisiko meninggal. Kami harus dapat menjangkau semua anak yang membutuhkan dengan aman secepat mungkin, terutama di daerah yang paling terkena dampak kekerasan baru-baru ini, di mana keluarga terpaksa mengungsi dan akses ke makanan langka,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur WFP untuk Afrika Tengah, Peter Schaller, mengatakan situasi gizi buruk yang melonjak adalah konsekuensi dari kekerasan pasca-pemilu baru-baru ini, serta membutuhkan tanggapan segera dan memadai untuk menyelamatkan nyawa dan menghindari bencana.

Laporan: Raihana Radhwa

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here