
PDB kawasan Arab diproyeksikan tumbuh 3,7 persen pada 2026

Foto yang diabadikan pada 4 September 2024 ini menunjukkan pemandangan Dubai di Uni Emirat Arab. (Xinhua/Sui Xiankai)
Perekonomian kawasan Arab diproyeksikan akan tumbuh lebih cepat dalam dua tahun ke depan, dengan rata-rata produk domestik bruto diproyeksikan tumbuh masing-masing sebesar 3,7 persen dan 3,3 persen pada 2026 dan 2027.
Beirut, Lebanon (Xinhua/Indonesia Window) – Perekonomian kawasan Arab diproyeksikan akan tumbuh lebih cepat dalam dua tahun ke depan, dengan rata-rata produk domestik bruto (PDB) diproyeksikan tumbuh masing-masing sebesar 3,7 persen dan 3,3 persen pada 2026 dan 2027, menurut laporan yang dirilis oleh Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia Barat (Economic and Social Commission for Western Asia/ESCWA) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (25/2).
Tingkat inflasi regional diperkirakan akan menurun dari 8,2 persen pada 2025 menjadi 5,4 persen pada 2027 sebagai dampak dari penurunan harga minyak dan berkurangnya gangguan rantai pasokan, urai laporan yang bertajuk ‘Prospek Makroekonomi di Kawasan Arab’ (Macroeconomic Outlook in the Arab Region) tersebut.
Kendati demikian, kawasan itu masih rentan terhadap berbagai guncangan dan ketidakpastian yang membebani prospek pertumbuhan, termasuk ketidakstabilan geopolitik, perang dan konflik, gangguan perdagangan di Laut Merah, dan ketidakpastian kebijakan perdagangan global, imbuh laporan tersebut.
Lebih lanjut laporan itu menyebutkan bahwa proyeksi kenaikan produksi minyak dan gas, disertai upaya diversifikasi ekonomi di luar sektor hidrokarbon, diperkirakan akan mendorong pertumbuhan negara-negara berpendapatan tinggi di kawasan itu.
Namun, risiko signifikan tetap membayangi negara-negara tersebut, termasuk dampak dari kenaikan tarif Amerika Serikat (AS), serta kekhawatiran terkait kemungkinan kembali pecahnya perang antara Israel dan Iran serta dampaknya terhadap negara-negara kawasan itu mengingat kedekatan geografis mereka dengan Iran, urai laporan tersebut.
Sementara itu, negara-negara berpendapatan menengah di kawasan Arab masih menghadapi "tantangan geopolitik dan sosioekonomi" yang signifikan seperti berlanjutnya "agresi" Israel di Gaza, imbuh laporan itu.
Selain itu, negara-negara berpendapatan rendah di kawasan tersebut berjuang menghadapi tantangan sosioekonomi yang "diperparah oleh keterbatasan ruang fiskal, berkurangnya bantuan, konflik, dan perpecahan politik," termasuk perang di Sudan, papar laporan tersebut.
ESCWA menyerukan kepada para pemerintah agar memperdalam diversifikasi, memperkuat keuangan publik, berinvestasi pada modal manusia dan transformasi digital, serta menyelaraskan bantuan dan investasi dengan prioritas nasional, terutama di negara-negara yang terdampak konflik.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Sekjen ASEAN sebut pihaknya akan terus dorong perdagangan regional
Indonesia
•
30 Mar 2023

Opini: UE sasar kelemahan Washington dalam perang dagang yang mengintai
Indonesia
•
03 May 2025

Pebisnis Indonesia harapkan perdagangan dengan China semakin luas
Indonesia
•
14 Nov 2022

ADB perkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5 persen pada 2024 dan 2025
Indonesia
•
14 Dec 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping dorong kerja sama Global South
Indonesia
•
12 Sep 2026

Harga minyak WTI tembus 100 dolar AS per barel, konflik Timur Tengah Memanas
Indonesia
•
12 Sep 2026

Feature – Warga Xinglong minum lebih dari 200 cangkir kopi setahun saat industri kopi China tembus 928 triliun rupiah
Indonesia
•
12 Sep 2026

El Nino ancam inflasi Indonesia, harga beras hingga jagung diprediksi melonjak
Indonesia
•
10 Sep 2026
