
Pelabuhan nol karbon Tianjin jadi inspirasi pengembangan infrastruktur maritim Indonesia

Foto yang diabadikan pada 22 Agustus 2025 ini menunjukkan suasana Pelabuhan Tianjin di Kota Tianjin, China utara. (Xinhua)
Tianjin, China (Xinhua/Indonesia Window) – Iwan Pramesti Anwar, dosen ilmu kemaritiman dari Institut Teknologi Bandung (ITB), baru-baru ini mengunjungi Pelabuhan Tianjin seksi Beijiang, yang merupakan terminal pintar nol karbon pertama di dunia, guna mengamati penerapan teknologi otonomos dan kecerdasan di pelabuhan modern.
"Sungguh luar biasa! Saya belum pernah melihat begitu banyak kendaraan otonomos beroperasi di sebuah pelabuhan!" seru Iwan. "Inilah perpaduan kecerdasan buatan, sistem otonomos dan sistem operasional nirawak, hebat sekali!"
Iwan datang ke Tianjin dalam rangka mengikuti Lokakarya Teknis Internasional untuk Konstruksi Pelabuhan dan Jalur Air di Negara-negara Sabuk dan Jalur Sutra (International Technical Workshop for Belt and Road Countries Port and Waterway Construction). Ajang ini menarik lebih dari 30 pejabat pemerintah, teknisi, pengelola, dan akademisi dari 10 negara dan kawasan ke Institut Penelitian Rekayasa Transportasi Air Tianjin (Tianjin Research Institute for Water Transport Engineering) di bawah naungan Kementerian Transportasi China.
Ajang ini terutama berfokus pada diskusi dan studi tentang struktur pelabuhan, pemantauan keamanan, pengiriman cerdas dan proyek dukungan pelabuhan, dengan keterlibatan institusi ilmiah dan laboratorium lokal.
"Kami berharap bisa memperdalam kerja sama dan pertukaran ilmiah di bidang kemaritiman, antara ITB dan Tianjin. Praktik luar biasa di Tianjin adalah hal yang belum kami lihat di Indonesia dan pengalaman ini akan memberi dorongan vital untuk proyek-proyek pengoptimalan jalur pengiriman dan pelabuhan di Indonesia," papar Iwan.
Hubungan Iwan dengan China jauh melampaui program pelatihan ini.
Pada 2006, ITB dan Institut Penelitian Rekayasa Transportasi Air Tianjin memulai pertukaran personel. Selama bertahun-tahun, kedua pihak telah bersama-sama mengembangkan berbagai platform penelitian, termasuk kolam eksperimen teknik pelabuhan dan pusat penelitian bersama yang didukung oleh para mitra China, yang menyediakan dukungan teknis untuk proyek-proyek terkait di Indonesia.
"Kami telah mengumpulkan banyak pengalaman melalui kerja sama antara ITB dan institut Tianjin. Kunjungan saya ke Tianjin kali ini juga merupakan bagian dari kerja sama jangka panjang tersebut," kata Iwan.
Seiring berlanjutnya kerja sama Sabuk dan Jalur Sutra China-Indonesia, sejumlah proyek kerja sama di bidang pembangunan pelabuhan sudah membuahkan hasil nyata seperti tahap pertama terminal Kawasan Industri Terpadu Indonesia-China (Jinjiang Park) dan terminal berkapasitas 70.000 ton di Kawasan Industri Nanshan di Bintan.
Kerja sama antara berbagai perusahaan dan lembaga pendidikan dalam pelatihan talenta dan pengembangan teknologi juga terus dipererat.
"Kami memiliki banyak proyek kerja sama untuk mengatasi berbagai tantangan di Indonesia dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (BRI). Kami memberikan dukungan ilmiah dan melibatkan mahasiswa dalam penilaian multidisiplin," kata Iwan.
Dalam lokakarya tersebut, para peserta juga mengunjungi Pusat Layanan Lalu Lintas Kapal di Administrasi Keselamatan Maritim Tianjin (Tianjin VTS) untuk mempelajari praktik-praktik China dalam pelayaran cerdas.
Yin Xianming, seorang petugas jaga di pusat tersebut, mengatakan bahwa pusat tersebut telah bekerja sama dengan Tianjin Port Group untuk mengatasi praktik manajemen yang terfragmentasi dan mendorong koordinasi yang lebih erat antardepartemen terkait. Melalui berbagi informasi secara waktu nyata (real-time) dan operasi yang terkoordinasi, pelabuhan tersebut telah meningkatkan efisiensi pergerakan kapal.
Pusat tersebut juga bekerja sama dengan petugas pengatur pelabuhan, nakhoda, operator kapal tunda, dan penyedia layanan navigasi untuk mengatur jadwal kapal secara dinamis serta membuat rencana kedatangan dan keberangkatan yang akurat hingga hitungan menit. Hasilnya, insiden kompleks di jalur utama telah berkurang lebih dari 30 persen, fluktuasi jadwal kapal telah turun dari 27 persen menjadi 13 persen, dan tingkat ketepatan waktu untuk kapal-kapal utama telah mencapai 100 persen.
Menyoroti praktik pelabuhan pintar di China, Iwan mengatakan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sistem automasi, dan teknologi operasi otonomos sedang mentransformasi manajemen pelabuhan.
"Teknologi pintar tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan mengurangi kesalahan manusia," kata Iwan.
"BRI bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur. Ini juga tentang berbagi pengetahuan, pengembangan bakat, dan kerja sama teknologi," katanya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Wuling perkenalkan Cloud EV, mobil listrik ketiganya di Indonesia
Indonesia
•
16 Feb 2024

Pejabat Rusia: Minyak bisa capai 300-400 dolar AS jika batas harga diterapkan
Indonesia
•
06 Jul 2022

Perdagangan Indonesia surplus 3,51 miliar dolar AS pada November 2021
Indonesia
•
15 Dec 2021

Bauran kebijakan jaga stabilitas ekonomi Indonesia
Indonesia
•
11 Oct 2019


Berita Terbaru

Libur panjang dongkrak penumpang Whoosh, tembus 126 ribu orang dalam sepekan
Indonesia
•
06 Jun 2026

China butuh 4 miliar butir kelapa per tahun, investor lirik Halmahera Utara
Indonesia
•
06 Jun 2026

Cadangan devisa Jepang anjlok Rp1.391 triliun dalam sebulan demi tahan penurunan yen
Indonesia
•
06 Jun 2026

India resmi jual bahan bakar e85, kandungan etanolnya capai 85 persen
Indonesia
•
06 Jun 2026
