
PBB sebut Amerika Latin akan catat pertumbuhan ekonomi yang rendah pada 2022

Mario Cimoli, Pelaksana Tugas Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia (Economic Commission for Latin America and the Caribbean/ECLAC), berbicara pada sebuah konferensi pers di Santiago, Chile, pada 6 Juni 2022. (Xinhua/ECLAC)
Kawasan Amerika Selatan diperkirakan akan mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2,6 persen tahun ini, setelah meningkat 6,9 persen pada 2021.
Jakarta (Indonesia Window) – Kawasan Amerika Latin dan Karibia kemungkinan akan mencatat ekspansi ekonomi rata-rata 2,7 persen pada 2022, kembali ke pertumbuhan ekonomi yang lambat sebelum pandemik di tengah pembatasan ekonomi makro eksternal dan domestik yang ketat, kata Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia (Economic Commission for Latin America and the Caribbean/ECLAC) yang berbasis di Santiago pada Selasa (23/8).Kawasan Amerika Selatan diperkirakan akan mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2,6 persen tahun ini, setelah meningkat 6,9 persen pada 2021, kata badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu saat mempresentasikan laporan tahunan Survei Ekonomi Amerika Latin dan Karibia 2022.Sementara itu, Amerika Tengah dan Meksiko diperkirakan akan mengalami pertumbuhan 2,5 persen tahun ini, setelah tumbuh 5,7 persen pada 2021, sedangkan kawasan Karibia akan mencatat pertumbuhan 4,7 persen, menjadi satu-satunya subkawasan dengan pertumbuhan yang melebihi tingkat tahun lalu (4 persen).Organisasi itu menyerukan koordinasi kebijakan ekonomi makro yang dapat menciptakan dinamika pertumbuhan, meningkatkan investasi publik dan swasta, serta berkontribusi untuk mengurangi kesenjangan dan kemiskinan.Pelaksana Tugas Sekretaris Eksekutif ECLAC Mario Cimoli dalam presentasi tersebut memaparkan bahwa situasi di Amerika Latin dan Karibia bukan hanya akibat dari faktor-faktor yang timbul belakangan ini, melainkan "hasil akumulasi dari serangkaian krisis" sejak 2008.Laporan tersebut juga menyoroti dampak global dari krisis di Eropa Timur, yang telah ‘mengurangi ketersediaan pangan dan menaikkan harga energi’, serta harga-harga komoditas.Akibat tekanan inflasi, beberapa bank sentral memutuskan menaikkan suku bunga dan mengurangi langkah-langkah stimulus, sementara perlambatan pada aktivitas ekonomi telah membatasi pemulihan pasar tenaga kerja, terutama bagi kaum perempuan, sebut badan PBB itu.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan pemerintah sebut Kanada berpotensi alami resesi ringan
Indonesia
•
04 Nov 2022

Layanan masyarakat di Australia hadapi lonjakan permintaan di tengah tingginya biaya hidup
Indonesia
•
15 Dec 2022

Lima kota dengan biaya hidup tertinggi di dunia
Indonesia
•
10 Dec 2022

PLTU berteknologi USC terbesar di Indonesia berkapasitas 20.000 MW
Indonesia
•
16 Dec 2019


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping dorong kerja sama Global South
Indonesia
•
12 Sep 2026

Harga minyak WTI tembus 100 dolar AS per barel, konflik Timur Tengah Memanas
Indonesia
•
12 Sep 2026

Feature – Warga Xinglong minum lebih dari 200 cangkir kopi setahun saat industri kopi China tembus 928 triliun rupiah
Indonesia
•
12 Sep 2026

El Nino ancam inflasi Indonesia, harga beras hingga jagung diprediksi melonjak
Indonesia
•
10 Sep 2026
