
PBB butuh 51,97 triliun rupiah untuk Suriah, realisasi masih jauh dari target

Sejumlah orang memuat barang-barang rumah tangga ke atas truk saat keluarga-keluarga pengungsi bersiap untuk kembali ke Ras al-Ain dan daerah sekitarnya dari sebuah kamp di Provinsi Hasakah, Suriah timur laut, pada 7 September 2026. (Xinhua/Str)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Arus warga Suriah yang terusir akibat kekerasan dari rumah mereka dan mengungsi ke kamp-kamp pengungsian telah berbalik arah, menciptakan sejumlah tantangan baru, seperti disampaikan badan kemanusiaan PBB pada Selasa (29/9).
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan hampir 39.000 orang telah meninggalkan lokasi pengungsian pada Juli dan Agustus saja.
"Kepulangan ini merupakan pertanda positif, tetapi kebutuhan semakin bergeser dari kamp-kamp ke komunitas tempat warga kembali, dengan rumah-rumah yang rusak, layanan dasar yang terbatas, serta kurangnya lapangan kerja mempersulit keluarga untuk membangun kembali kehidupan mereka," kata OCHA.
Kantor tersebut mengatakan bahwa PBB, bekerja sama dengan para mitra, membantu memulihkan layanan penting di komunitas-komunitas tersebut, termasuk jaringan air dan listrik, rumah sakit, sekolah, toko roti, jalan, dan rumah.
OCHA menyebut Aleppo dan Idlib sebagai contoh, di mana lebih dari 120.000 orang memiliki akses yang lebih baik terhadap roti, dengan fasilitas tambahan yang diperkirakan akan memberikan manfaat bagi 320.000 orang lainnya.
Bantuan kemanusiaan juga terus berlanjut di seluruh negara tersebut.
Kantor tersebut mengatakan bahwa antara Januari dan Juli, rata-rata 2,5 juta orang per bulan menerima bantuan, termasuk makanan, pelayanan kesehatan, tempat tinggal, air bersih, dan pendidikan, sementara sekitar 120 juta dolar AS dalam bentuk uang tunai dan voucer diberikan kepada keluarga.
*1 dolar AS = 17.922 rupiah
Namun, OCHA mengatakan bahwa lebih dari 15 juta orang masih membutuhkan bantuan kemanusiaan di Suriah, dan rencana respons kemanusiaan senilai 2,9 miliar dolar AS baru mendapatkan pendanaan kurang dari sepertiganya.
"Pendanaan yang berkelanjutan dan fleksibel sangat penting baik untuk menjaga agar bantuan penyelamat jiwa tetap berjalan maupun untuk membantu orang-orang yang kembali ke rumah mereka membangun kembali kehidupan mereka," kata kantor tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pelayaran internasional terancam, AS naikkan status keamanan Selat Hormuz
Indonesia
•
29 Jun 2026

Pernyataan Trump soal Greenland picu kegelisahan di Eropa, isyaratkan perpecahan AS-Eropa makin dalam
Indonesia
•
15 Jan 2025

Komite Investigasi Rusia: Tersangka pembunuhan Letnan Jenderal Igor Kirillov ditahan
Indonesia
•
23 Dec 2024

Saudi perlihatkan rudal Iran yang digunakan dalam serangan Aramco
Indonesia
•
19 Sep 2019


Berita Terbaru

Lebih dari 100 pemukim Israel rusuh di Tepi Barat, rumah keluarga Palestina dibakar
Indonesia
•
29 Sep 2026

Dunia menanti hubungan China-AS Stabil, ini yang dipertaruhkan
Indonesia
•
29 Sep 2026

Menlu Saudi desak Selat Hormuz kembali normal tanpa biaya dan pembatasan
Indonesia
•
28 Sep 2026

Iran sebut 5.000 orang tewas dalam serangan AS-Israel, ratusan perempuan dan anak jadi korban
Indonesia
•
28 Sep 2026
