
Ilmuwan China rekomendasikan strategi pengobatan baru untuk karsinoma nasofaring

Seorang perawat bernama Qiu Jian bekerja di bangsal Rumah Sakit Afiliasi Universitas Kedokteran Guizhou di Guiyang, Provinsi Guizhou, China barat daya, pada 11 Mei 2022. (Xinhua/Tao Liang)
China memiliki tingkat kejadian karsinoma nasofaring yang tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, radioterapi dengan intensitas termodulasi (intensity-modulated radiotherapy/IMRT) telah menjadi teknologi radioterapi utama untuk karsinoma nasofaring, yang telah meningkatkan efek kuratif secara signifikan.
Jakarta (Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti China merekomendasikan strategi pengobatan baru untuk pasien karsinoma nasofaring, demikian menurut Universitas Sun Yat-sen.Para ilmuwan dari Pusat Kanker universitas itu memimpin uji klinis fase III, yang menunjukkan hasil bahwa radioterapi saja dapat menggantikan kombinasi radioterapi dan kemoterapi pada pasien dengan karsinoma nasofaring risiko rendah, sehingga kualitas hidup pasien dapat menjadi lebih baik tanpa mengorbankan efek kuratifnya.China memiliki tingkat kejadian karsinoma nasofaring yang tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, radioterapi dengan intensitas termodulasi (intensity-modulated radiotherapy/IMRT) telah menjadi teknologi radioterapi utama untuk karsinoma nasofaring, yang telah meningkatkan efek kuratif secara signifikan, kata Ma Jun, wakil presiden eksekutif di pusat tersebut.Bersama beberapa rumah sakit lain, pusat tersebut melakukan penelitian untuk mengeksplorasi apakah pasien karsinoma nasofaring stadium menengah masih perlu menjalani kemoterapi bersamaan dengan IMRT.Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa di antara pasien dengan karsinoma nasofaring risiko rendah, hasil kelangsungan hidup pasien yang menerima radioterapi saja ternyata serupa dengan mereka yang menerima radioterapi dan kemoterapi secara bersamaan.Sementara itu, pasien yang hanya menerima radioterapi menunjukkan pengurangan besar dalam efek toksik dan efek samping, dan kualitas hidup mereka pun meningkat secara signifikan.Strategi pengobatan baru yang direkomendasikan dalam penelitian ini dapat meningkatkan kualitas hidup pasien tanpa menurunkan efek kuratif, dan setidaknya 20 persen pasien karsinoma nasofaring diharapkan dapat memperoleh manfaatnya, kata Ma.Studi tersebut baru-baru ini diterbitkan dalam The Journal of the American Medical Association (JAMA).Menurut American Cancer Society, Karsinoma Nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang paling sering tumbuh di daerah nasofaring.Secara umum, kanker nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut.Di bagian THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), kanker nasofaring merupakan keganasan paling banyak atau tertinggi mengenai laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan 3:1 atau 2,5:1. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor etiologi seperti merokok, alkoholisme, genetik, polusi, asap pembakaran, konsumsi makanan yang dibakar, makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan, diasap, ataupun formalin dan adanya Epsteinbar Virus (EBV) atau virus yang bisa ditemukan di daerah nasofaring yang berhubungan langsung dengan kanker nasofaring.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Teknologi pemuliaan padi China dorong pengembangan pertanian Asia dan Afrika
Indonesia
•
04 May 2023

China keluarkan draf peraturan tentang manajemen teknologi pengenalan wajah
Indonesia
•
11 Aug 2023

Spanyol berencana ubah waduk jadi ‘baterai’ untuk penyimpanan energi surplus
Indonesia
•
03 Aug 2024

30 hewan laut terdampar sepanjang 2019 bawa pesan dari alam
Indonesia
•
28 Sep 2019


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
