
Pakar: AS abaikan ‘Long COVID’ yang lumpuhkan kehidupan masyarakat

Sejumlah orang mengantre untuk menjalani tes COVID-19 di Arlington, Virginia, Amerika Serikat, pada 22 Desember 2021. (Xinhua/Ting Shen)
Long COVID di AS phk sangat mengkhawatirkan masyarakat setempat karena kondisi infeksi yang berkepanjangan ini telah mengakibatkan banyak warga kehilangan pekerjaan dan pendapat keluarga, sementara pemerintah AS mengabaikan kondisi tersebut.
Los Angeles, AS (Xinhua) – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengabaikan "peristiwa kelumpuhan massal terbesar dalam sejarah umat manusia," lapor majalah Time, melansir pernyataan dari sejumlah pakar dan advokat Long COVID.Dalam sebuah jajak pendapat Axios-Ipsos pada Juli, 17 persen warga menyampaikan bahwa ketakutan terbesar mereka terkait COVID-19 adalah kemungkinan terjangkit Long COVID, sebuah kondisi yang berpotensi melumpuhkan ketika gejala COVID-19 bertahan atau muncul jauh setelah infeksi akut terjadi, menurut laporan yang dipublikasikan oleh majalah Time pada Senin (19/9)."Namun, di saat mayoritas orang dewasa AS berpikir bahwa kembali ke kehidupan normal hanya membawa risiko kecil, para pengguna masker, partisipan tes, dan warga yang mempraktikkan aturan jaga jarak sosial (social distancing) seperti berjuang sendirian," urai laporan itu.Di sepanjang tahun 2022, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS membatalkan sejumlah besar rekomendasi tindakan pencegahan COVID-19 yang dikeluarkannya.Pedoman CDC tidak lagi merekomendasikan aturan jaga jarak sosial, penggunaan masker, atau tes skrining bagi sebagian besar warga yang tidak menunjukkan gejala, dan orang-orang yang belum divaksinasi tidak perlu menjalani karantina jika mereka terpapar virus tersebut, papar laporan itu."Bahkan dengan tingkat kekebalan populasi yang tinggi, angka kasus Long COVID terus meningkat. Menurut perkiraan CDC sendiri pada Juni, satu dari lima orang dewasa di AS yang diketahui pernah tertular COVID-19 sebelumnya mengalami gejala Long COVID," imbuh laporan itu.Para pejabat kesehatan tidak melakukan upaya yang cukup untuk mencegah penularan virus itu dan membantu warga memahami risikonya, tutur Kristin Urquiza, yang mendirikan kelompok advokasi Marked By COVID setelah sang ayah meninggal akibat virus tersebut pada 2020 lalu."Para pemimpin telah menyerah dan pada dasarnya mengatakan, 'terserah Anda,'" kata laporan itu mengutip pernyataan Urquiza.
Orang-orang mengantre di sebuah lokasi tes COVID-19 di New York, Amerika Serikat, pada 28 Maret 2022. (Xinhua/Michael Nagle)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Google akan hapus riwayat lokasi kunjungan ke klinik aborsi di AS
Indonesia
•
02 Jul 2022

Musim flu, COVID-19, dan RSV lebih awal picu kekhawatiran di Eropa
Indonesia
•
02 Dec 2022

COVID-19 – Kekebalan kawanan Jepang hampir 90 persen setelah gelombang omicron
Indonesia
•
28 Sep 2022

Peristiwa-Peristiwa Penting dalam Konflik Israel-Palestina dan Proses Perundingan Gencatan Senjata
Indonesia
•
17 Jan 2025


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
