Nilai perdagangan RCEP tembus Rp109 kuadriliun, ASEAN dan China kian solid

Para perwakilan menghadiri upacara penandatanganan dalam pembukaan Forum Kerja Sama Pemerintah Daerah dan Kota-Kota Bersahabat RCEP (Huangshan) 2026 di Huangshan, Provinsi Anhui, China timur, pada 28 Mei 2026. Dalam upacara tersebut, Universitas Pertanian Anhui dan Universitas Mulawarman dari Indonesia menandatangani nota kerja sama untuk mendirikan Pusat Pengajaran dan Penelitian Bahasa Mandarin.

Hefei, China (Xinhua/Indonesia Window) – Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) jauh lebih dari sekadar perjanjian perdagangan, kemitraan ini merupakan jangkar stabilitas. Pandangan ini disepakati secara luas oleh para partisipan yang menghadiri Forum Kerja Sama Pemerintah Daerah dan Kota-Kota Bersahabat RCEP (Huangshan) 2026 yang diselenggarakan di Provinsi Anhui, China timur, pada akhir Mei.

Di tengah meningkatnya proteksionisme, memanasnya ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian yang ditimbulkan oleh restrukturisasi rantai pasok global, para perwakilan dari pemerintah daerah, kalangan bisnis, dan akademisi dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Laos, menyoroti satu tema besar utama, yakni meningkatkan kerja sama ke tingkat yang lebih tinggi.

Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani mengatakan RCEP tidak sekadar soal statistik perdagangan dan perjanjian ekonomi, tetapi juga menghadirkan peluang bersama, yakni peluang untuk mewujudkan pembangunan regional yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, inklusif, dan inovatif.

Para partisipan menyoroti bahwa kerja sama regional di bawah RCEP sedang berkembang dari ekspansi yang didorong oleh fasilitasi perdagangan menuju pembangunan yang lebih berkualitas tinggi yang ditandai dengan penyelarasan regulasi yang lebih kuat, integrasi industri yang lebih mendalam, serta kerja sama inovasi yang lebih erat.

Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menyebut mekanisme seperti RCEP dan Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN (CAFTA) bukan sekadar perjanjian perdagangan, melainkan juga platform penting untuk menjaga stabilitas regional, memastikan kelancaran rantai pasokan, serta meningkatkan kepercayaan investor.

Menurut data yang dirilis dalam forum tersebut oleh Presiden Institut Reformasi dan Pembangunan China Chi Fulin, nilai perdagangan di kawasan RCEP naik dari 4,43 triliun dolar AS pada 2020 menjadi 6,09 triliun dolar AS pada 2025, atau meningkat sebesar 24 persen. Pangsa RCEP dalam perdagangan global juga meningkat dari 27,2 persen menjadi 29,1 persen pada periode yang sama. Sementara itu, kawasan ini menyumbang sekitar 30 hingga 32 persen arus masuk investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) global, menjadikannya destinasi utama bagi investasi internasional.

*1 yuan = 2.663 rupiah

**1 dolar AS = 18.039 rupiah

Dalam beberapa tahun terakhir, China dan ASEAN secara konsisten menjadi mitra dagang terbesar bagi satu sama lain, dengan nilai perdagangan bilateral melampaui 1 triliun dolar AS untuk pertama kalinya pada 2025, menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

Para partisipan forum sepakat bahwa RCEP telah memasuki tahap krusial dalam proses peningkatan. Lee Hee-sup, sekretaris jenderal Sekretariat Kerja Sama Trilateral (Trilateral Cooperation Secretariat/TCS), mengatakan bahwa proteksionisme dan fragmentasi rantai pasokan sedang menguji ketahanan kerja sama regional, sehingga menjadi keharusan bagi para anggota RCEP untuk memperdalam kolaborasi di berbagai bidang seperti koordinasi regulasi, ekonomi digital, pembangunan hijau, dan integrasi rantai pasok.

Selama forum tersebut, ‘kerja sama lokal’ menjadi tema yang terus mengemuka. Duta Besar Vietnam untuk China Pham Thanh Binh menekankan bahwa kerja sama yang lebih kuat antarpemerintah daerah sangat penting agar RCEP dapat memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha dan masyarakat umum.

Datuk Nur Jazlan bin Tan Sri Mohamed, wakil presiden Senat Malaysia, menyebutkan bahwa kerja sama langsung antarprovinsi dan negara bagian semakin menjadi kekuatan penting yang mendorong perkembangan RCEP. Sebuah inisiatif yang diusulkan pada forum tahun lalu untuk meluncurkan rute penerbangan langsung antara Kuala Lumpur dan Hefei, Provinsi Anhui, telah direalisasikan pada Februari, sehingga memberikan kemudahan yang lebih besar bagi perdagangan dan pertukaran bilateral.

Banyak negara ASEAN juga memanfaatkan forum tersebut sebagai platform untuk menjajaki berbagai peluang baru. Provinsi Preah Sihanouk di Kamboja berharap dapat memperkuat kerja sama di bidang perdagangan, logistik, dan energi hijau. Sementara itu, Provinsi Phu Tho di Vietnam berupaya menarik lebih banyak investasi dari China. Provinsi Khammouane di Laos berupaya memperdalam kerja sama dalam pengembangan sumber daya mineral dan logistik lintas perbatasan, sedangkan Provinsi Papua Barat di Indonesia berharap dapat memanfaatkan RCEP untuk mendorong peningkatan industri serta inovasi teknologi.

Zhang Shaogang, wakil ketua eksekutif Dewan Bisnis APEC China, mengatakan bahwa pembaruan RCEP di masa mendatang, yang didukung oleh aturan-aturan baru yang memfasilitasi kerja sama rantai industri serta kolaborasi ekonomi dan teknologi, akan semakin memperkuat koordinasi industri dan konektivitas teknologi.

"Di bawah kerangka kerja pasar terpadu, para anggota RCEP dapat menjalin keterkaitan pasar yang lebih erat dan kemitraan inovasi yang lebih dinamis, mengidentifikasi posisi paling kompetitif mereka dalam rantai industri regional, memperkuat daya saing inti mereka, serta mewujudkan pembangunan yang saling melengkapi dan saling menguntungkan," ujar Zhang.

"Kita dapat bersama-sama menjajaki teknologi mutakhir di masa depan, termasuk bidang kedirgantaraan, komputasi kuantum, dan industri emerging lainnya," kata Nur Jazlan. Pernyataannya tersebut sejalan dengan konsensus yang lebih luas di antara negara-negara ASEAN bahwa kerja sama yang lebih mendalam di bawah RCEP akan menciptakan berbagai peluang baru bagi pembangunan bersama.

Laporan: Redaksi

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait