New York unggul atas London sebagai pusat keuangan top dunia

Ilustrasi. Kota New York, AS. (Thomas Habr on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Kota New York telah memperpanjang keunggulannya di antara pusat keuangan top dunia, di atas London yang kalah dari pesaingnya yang semakin kompetitif di Amerika Serikat dan Asia, menurut Indeks Pusat Keuangan Global (GFCI) pada Kamis.

Indeks dari lembaga pemikir Z/Yen Group dalam kemitraan dengan China Development Institute itu menunjukkan ibu kota keuangan AS memegang posisi teratas dengan 759 poin, turun 3 poin dari posisi enam bulan lalu.

Pemeringkatan didasarkan pada survei dan 150 faktor, dengan ukuran kuantitatif dari Bank Dunia, The Economist Intelligence Unit, OECD (Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan), dan PBB.

London bertahan di tempat kedua meskipun kehilangan 14 poin menjadi 726. Penurunan serupa di waktu berikutnya akan menempatkannya di belakang Hong Kong, Shanghai dan Los Angeles, dan setara dengan Singapura, berdasarkan kinerja mereka saat ini.

London kini menjadi satu-satunya pusat Eropa yang masuk 10 besar setelah Shenzhen yang menggantikan Paris di peringkat 10, sebut Reuters.

GFCI mengatakan invasi Rusia ke Ukraina akan mempengaruhi peringkat masa depan untuk Moskow dan St. Petersburg, yang kemungkinan akan turun setelah masing-masing berada di peringkat 50 dan 110, kali ini.

Peringkat London telah diawasi ketat sejak keluarnya Inggris dari Uni Eropa, yang sebagian besar memutuskan sektor keuangan Inggris dari blok tersebut.

Dalam indeks peringkat fintech (teknologi keuangan) GFCI – sektor yang diprioritaskan Inggris dalam upayanya untuk menjaga London tetap menarik – New York dan Shanghai masing-masing mempertahankan posisi pertama dan kedua, sementara Beijing dan San Francisco mengambil alih London untuk mengambil tempat ketiga dan keempat.

Brexit menyebabkan seruan dari bank-bank untuk Inggris meningkatkan daya saing ibu kota, dengan aturan pencatatan yang sudah dilonggarkan.

Kementerian Keuangan Inggris berencana untuk memberi regulator kewenangan daya saing formal, meskipun menjaga keamanan bank, perlindungan konsumen, dan ketertiban pasar akan tetap menjadi prioritas utama mereka.

“Tujuan utama untuk mempromosikan daya saing adalah benar-benar ide yang buruk,” kata Deputi Gubernur bank Sentral Inggris (BoE) Sam Woods pekan ini.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan