
Mutasi genetika hambat pengobatan skizofrenia baru

Ilustrasi. (Sander Sammy on Unsplash)
Perubahan bawaan pada otak dapat sepenuhnya menghambat fungsi trace amine-associated receptor 1 (TAAR1), reseptor yang menjadi target obat-obatan skizofrenia baru, sehingga membuat obat-obatan tersebut tidak efektif.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti di Australia berhasil menemukan sebuah mutasi genetik langka yang dapat menjelaskan mengapa sebagian orang tidak merespons pengobatan skizofrenia baru.
Penelitian tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Genomic Psychiatry, mengungkap bahwa perubahan bawaan pada otak dapat sepenuhnya menghambat fungsi trace amine-associated receptor 1 (TAAR1), reseptor yang menjadi target obat-obatan skizofrenia baru, sehingga membuat obat-obatan tersebut tidak efektif, menurut pernyataan dari Universitas Flinders di Australia pada Rabu (4/2).
Meskipun terapi berbasis TAAR1 telah muncul sebagai alternatif pengobatan utama untuk merawat skizofrenia, orang-orang yang mengalami mutasi ini kecil kemungkinannya mendapatkan manfaat dari terapi tersebut, papar Pramod Nair, peneliti utama penelitian ini yang juga merupakan senior research fellow di Universitas Flinders.
Penelitian tersebut berfokus pada varian, atau mutasi, genetik TAAR1 langka yang dikenal sebagai C182F, yang mencegah reseptor berfungsi dengan membuatnya terlipat ke dalam dirinya sendiri, sehingga memblokir lokasi di mana obat-obatan dan molekul alami normalnya berikatan.
"Reseptor tersebut pada dasarnya mengunci dirinya sendiri dan bahkan obat-obatan baru terbaik pun tidak dapat membukanya," ujar Nair. Dia menambahkan tim peneliti terkejut dengan bagaimana mutasi tersebut melumpuhkan total reseptor tersebut, seraya mengungkapkan mutasi itu tidak hanya melemahkan tetapi juga menghentikan respons reseptor sepenuhnya.
Mutasi tersebut, meskipun tergolong langka secara global, lebih sering ditemukan pada masyarakat Asia Selatan, sebut Nair, seraya menekankan pentingnya melakukan skrining genetik sebelum memulai pengobatan.
Temuan-temuan ini memberikan petunjuk baru mengenai penyebab skizofrenia dan menyoroti pentingnya pengobatan yang dipersonalisasi, di mana perawatan disesuaikan dengan genetik setiap individu, kata tim peneliti.
Skizofrenia memengaruhi sekitar 23 juta orang di seluruh dunia. Obat-obatan yang tersedia saat ini sebagian besar bekerja dengan menargetkan dopamin, tetapi obat-obatan tersebut tidak efektif bagi semua orang dan dapat menimbulkan efek samping yang serius.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 - Rusia selesaikan uji coba vaksin pertama di dunia
Indonesia
•
14 Jul 2020

Fosil dinosaurus thyreophora dari Periode Jura Awal ditemukan di China
Indonesia
•
17 Mar 2022

Tim ilmuwan China temukan fosil badak berusia 14 juta tahun di Asia Timur
Indonesia
•
20 Dec 2023

Ilmuwan China berhasil biakkan bayi tikus subur tanpa pejantan
Indonesia
•
12 Mar 2022


Berita Terbaru

Ilmuwan China ungkap alasan nyeri memburuk pada malam hari
Indonesia
•
21 Mar 2026

Rusia targetkan pembangunan PLTN di Bulan dalam 5-7 tahun
Indonesia
•
20 Mar 2026

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026
