
Molekul berbasis ganja bisa redakan nyeri kuat dan minim efek samping

Ilustrasi. (Add Weed on Unsplash)
Molekul berbasis ganja terbaru menunjukkan efek pereda nyeri yang kuat dalam uji nyeri akut, inflamasi, dan neuropatik, terhadap tikus.
Hangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti dari China berhasil mengembangkan molekul baru yang memberikan pereda nyeri kuat dengan efek samping yang jauh lebih sedikit dibandingkan obat-obatan berbasis ganja tradisional, yang banyak digunakan untuk nyeri dan gangguan suasana hati namun sering kali menyebabkan toleransi, kecanduan, dan gangguan kognitif.
Penemuan tersebut dianggap sebagai terobosan yang dapat membantu memanfaatkan nilai medis ganja dengan lebih aman. Penelitian itu dipimpin oleh Li Xiaoming dari Universitas Zhejiang bekerja sama dengan Dong Xiaowu dan Zhang Yan, dengan temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Cell pada Senin (13/4).
Sejak 2015, para peneliti telah berfokus pada efek terapeutik ganja dan menguraikan mekanisme saraf yang mendasarinya. Mereka mengidentifikasi bahwa reseptor kanabinoid 1 (CB1) memainkan peran penting di sejumlah bagian otak. Di amigdala, salah satu pusat emosi otak, penurunan fungsi CB1 menyebabkan kecemasan dan depresi, dan mengaktifkan CB1 di bagian ini dapat meredakan kondisi tersebut. Di talamus, pusat penghubung rasa sakit, CB1 mengontrol ambang rasa sakit dan menjadi target utama pereda nyeri yang diinduksi ganja.
Obat-obatan ganja tradisional mengaktifkan reseptor CB1, tetapi melakukannya dengan cara yang memicu dua jalur sinyal yang berbeda. Jalur sinyal Gi/o menghasilkan efek pereda nyeri dan antikecemasan, yang merupakan hasil terapeutik yang diinginkan. Namun, jalur sinyal β-arrestin menyebabkan toleransi, kecanduan, dan efek samping lainnya. Yang terpenting, reseptor yang sama dapat memproduksi kedua sinyal tersebut secara bersamaan atau bergantian.
Dengan menggunakan kecerdasan buatan, tim itu merancang secara rasional molekul-molekul kecil baru untuk mengaktifkan hanya jalur pensinyalan Gi/o dan menghindari pemicu jalur β-arrestin. Agonis-agonis ini berikatan dengan reseptor dengan cara menghindari benturan struktural yang biasanya terkait dengan efek samping, sehingga memastikan profil terapeutik yang lebih aman.
Dalam percobaan pada tikus, molekul baru tersebut menunjukkan efek pereda nyeri yang kuat dalam uji nyeri akut, inflamasi, dan neuropatik. Secara khusus, tikus-tikus itu tidak menunjukkan toleransi yang signifikan atau tanda kecanduan setelah tujuh hari pemberian secara terus-menerus. Senyawa tersebut juga menimbulkan jauh lebih sedikit efek samping pada suhu tubuh dan pergerakan dibandingkan dengan obat-obatan ganja konvensional.
Seorang pengulas menyebut makalah tersebut sebagai ‘karya yang elegan’ dan mencatat bahwa ini adalah yang pertama merancang secara rasional agonis CB1 yang bias. Molekul baru ini menawarkan alternatif potensial yang mempertahankan manfaat medis ganja sekaligus menghindari risiko narkotiknya.
Tim tersebut berencana untuk melanjutkan penelitian dan melangkah ke tahap uji klinis. "Kami bertujuan untuk memahami mekanisme penyakit, menemukan target terapeutik, dan mengembangkan obat yang efektif guna pada akhirnya meringankan penderitaan pasien," kata Li.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China rilis dataset untuk efisiensi penggunaan air di lahan pertanian global
Indonesia
•
23 May 2025

NASA dan SpaceX luncurkan misi rotasi kru baru ke ISS
Indonesia
•
03 Aug 2025

Studi sebut tingkat serapan karbon cemara China capai puncaknya di usia pertengahan
Indonesia
•
26 Oct 2023

Qualcomm luncurkan platform canggih untuk percepat inovasi AI
Indonesia
•
25 Oct 2024


Berita Terbaru

Tim peneliti China usulkan jalur baru untuk pembentukan pulsar milidetik
Indonesia
•
16 Apr 2026

Sistem AI dapat menilai manusia dan punya semacam "kepercayaan"
Indonesia
•
16 Apr 2026

Feature – Robot humanoid dikerahkan di lini perakitan presisi di China
Indonesia
•
16 Apr 2026

Ilmuwan temukan fosil hewan multiseluler pada lapisan Ediakara, pecahkan teka-teki evolusi Darwin
Indonesia
•
16 Apr 2026
