
Mirip pasal 5 NATO, Turkiye tegaskan Aliansi Pertahanan Makkah tak menargetkan Iran

Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud (tengah), Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan (kiri), dan Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif berfoto bersama setelah penandatanganan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah di Makkah, Arab Saudi, pada 7 Agustus 2026. (Xinhua/Saudi Press Agency)
Ankara, Turkiye (Xinhua/Indonesia Window) – Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan pada Sabtu (8/8) mengatakan bahwa Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah yang baru saja ditandatangani tidak menargetkan Iran, seraya menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bersifat defensif dan bertujuan melindungi para pihak yang terlibat dari "serangan" eksternal.
Dalam wawancara dengan kantor berita Turkiye, Anadolu Agency, Fidan mengatakan "tidak ada ancaman bersama yang kami tuangkan dalam bentuk tertulis", seraya menambahkan bahwa kesepakatan tersebut tidak menargetkan negara mana pun yang tidak menyerang pihak-pihak yang menandatanganinya.
"Iran bukanlah target dalam kesepakatan ini," ujarnya.
Fidan menyatakan bahwa persiapan untuk kesepakatan tersebut telah berlangsung selama hampir dua tahun delapan bulan, melibatkan pihak-pihak penandatangan dan negara-negara regional lainnya.
Fidan mengatakan bahwa kesepakatan tersebut "secara teknis mirip dengan Pasal 5 NATO mengenai pertahanan kolektif, yang memungkinkan para anggotanya untuk memperoleh manfaat dari dukungan pertahanan satu sama lain."
Negara yang sedang diserang perlu mengajukan permintaan bantuan dan menentukan jenis dukungan yang dibutuhkan, mulai dari intelijen dan logistik hingga amunisi atau unit militer, yang bergantung pada skala ancamannya, ujarnya.
Aliansi tersebut akan memiliki komite politik dan militer yang terdiri atas para menteri luar negeri dan pertahanan serta kepala staf umum, dengan sebuah sekretariat di Arab Saudi yang mengawasi pelaksanaannya, ujarnya.
Fidan mengatakan bahwa beberapa negara telah menunjukkan minat untuk bergabung dalam kesepakatan tersebut, seraya menyatakan keyakinannya bahwa Mesir, yang disebutnya sebagai "mitra alami", akan "bergabung dengan kami pada tahap berikutnya".
Kesepakatan yang ditandatangani pada Jumat (7/8) oleh Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan di kota Makkah, Arab Saudi, tersebut menetapkan bahwa setiap serangan bersenjata terhadap satu dari ketiga negara itu akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.
Waktu penandatanganan tersebut secara luas dipandang berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Sekjen PBB desak Myanmar kembali ke jalur demokrasi
Indonesia
•
12 Nov 2022

China desak komunitas internasional dukung aspirasi kemerdekaan Palestina
Indonesia
•
19 Apr 2024

Faksi terbesar LDP Jepang putuskan bubar di tengah skandal penggelapan dana politik
Indonesia
•
20 Jan 2024

Trump hidupkan lagi Departemen Perang, beberapa pihak menyebutnya "kekanakan"
Indonesia
•
07 Sep 2025


Berita Terbaru

Dugaan spionase guncang PBB, staf UNICEF diduga bocorkan informasi ke Israel
Indonesia
•
08 Aug 2026

Pezeshkian: Iran siap berdialog, tetapi tak bisa dipaksa menyerah
Indonesia
•
08 Aug 2026

Krisis migran picu konflik baru di Eropa, Spanyol balik perketat perbatasan Italia
Indonesia
•
08 Aug 2026

Abelardo De La Espriella resmi dilantik sebagai presiden baru Kolombia, pertama kalinya dilantik di luar Bogotá
Indonesia
•
08 Aug 2026
